Atlet Peraih Medali Emas Dikeluarkan dari SKO, Orang Tua Mengadu ke Meja Rakyat

KUPANG, HN – Orang tua Fernando Tibo Olla, atlet taekwondo peraih medali emas asal NTT, mengadu ke Meja Rakyat, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat 11 Juli 2025 siang.

Orang tua Fernando, Soleman Olla yang didampingi Bobby Pakh mengaku janggal dengan keputusan dari Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Flobamorata Kupang mendegradasi anak mereka tidak melalui prosedur yang benar.

“Orang tua Fernando keberatan dan merasa janggal, karena anaknya dikeluarkan dari SKO Kupang, yang notabene punya Pemprov NTT,” ujar Bobby Pakh.

Menurut Bobby, Fernando masuk ke SKO Kupang lewat seleksi. Dia punya prestasi emas di Atambua tahun 2019 dan di Kota Kupang tahun 2023.

BACA JUGA:  Maba UPG 1945 Diminta Terlibat Aktif dan Peduli Masalah Sosial di Tengah Masyarakat

“Tapi tiba-tiba diberitahu saat ambil buku raport bahwa dia dikeluarkan. Tidak ada pemberitahuan dari cabang olahraga (cabor) taekwondo,” jelas Bobby.

Menurut Bobby, mereka mengetahui Fernando dikeluarkan adalah ketika menerima undangan pengambilan raport pada 4 Juli 2025.

Saat itu, kata Bobby, pihak sekolah langsung menyampaikan Fernando didegradasi dari status atlet dan dikembalikan ke orang tua untuk lanjutkan pendidikan ke sekolah umum atau reguler.

“Harusnya kalau anak ini mau dikeluarkan, sekolah rapat dulu dengan cabor. Tapi ini tidak. Kami konfirmasi ke Ketua TI Pengprov NTT, Bapak Fransisco Bessi, beliau juga tidak tahu menahu soal keputusan ini,” tegasnya.

BACA JUGA:  Teriakan “Melki-Johni Bungkus” Warnai Kampanye Ansy-Jane di Alor

Fernando Tiba Olla merupakan atlet yang dibina langsung cabang olahraga taekwondo sebelum akhirnya dimasukkan ke SKO Kupang.

Oleh karena itu, Bobby menilai bahwa pemberhentian ini seharusnya dikomunikasikan secara resmi oleh cabor, bukan langsung dari kepala sekolah ke orang tua.

Bobby menyebut, pihaknya sebenarnya tidak keberatan jika anaknya didegradasi, namun mekanisme dan prosedur harus dijalankan secara transparan dan adil.

“Kalau memang ada masalah etika atau sikap, itu tugas sekolah untuk mendidik. Bukan langsung keluarkan. Kami hanya minta keadilan, mekanisme harus benar,” ucapnya.

Bobby pun menilai keputusan sepihak dari SKO seperti ini berpotensi menghambat masa depan atlet muda NTT, terlebih jelang pelaksanaan PON 2028 yang akan digelar di wilayah NTT-NTB.

BACA JUGA:  137 Taruna-Taruni SMK Maritim Nusantara Resmi Dilantik, Melki Laka Lena: Ayo Bangun NTT

“Kita kasihan, kita mau hadapi event Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 tetapi atlet kita justru buat seperti ini,” ungkap Bobby.

Bobby Pakh secara langsung meminta Gubernur Melki dan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma untuk meninjau ulang keputusan SKO Kupang.

Dia berharap agar Fernando bisa dikembalikan lagi untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan di sekolah khusus atlet tersebut.

“Jangan sampai kita buang anak yang bisa jadi bintang di masa depan. Kami mohon kepada Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, tolong anak ini dikembalikan ke SKO,” tandasnya.***

error: Content is protected !!