DPRD Alor Dikritik, Aktivis Sebut Bupati Sakit dan ‘Antek-Antek’ Kuasai Birokrasi

Ebenhaezer Tung Sely (Foto: Ist)

KUPANG, HN – Aktivis yang menamakan diri Aktivis Anak Kampung, Ebenhaezer Tung Sely mengkritik kinerja Ketua DPRD Alor Paulus Buche Brikmar dan Bupati Alor Iskandar Lakamau. Kritik itu disampaikan Ebenhaezer lewat akun TikTok miliknya dan kemudian viral di media sosial.

Dalam video itu, Ebenhaezer mempertanyakan fungsi DPRD Alor dalam menjalankan tugas pengawasan terhadap pemerintah daerah.

Dia juga mendesak Ketua DPRD Alor mengambil sikap terkait kondisi Bupati Iskandar Lakamau yang disebutnya sedang sakit.

Menurut Ebenhaezer, kondisi itu semestinya menjadi perhatian lembaga legislatif karena berkaitan dengan keberlangsungan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Kalau menjawab pertanyaan ini, saya mau bilang DPRD sudah tidak ada, dan Ketua DPRD sudah mati suri. Karena fungsi DPR sebagai legislatif dalam bidang pengawasan dan penganggaran sudah tidak ada dalam tubuh DPR,” ujar Ebenhaezer, Jumat 11 September 2026.

BACA JUGA:  YSH Bantah Rusak Fasilitas Kantor, Singgung Amanat RALB Nonjobkan Kasmirus Kopong

Dia bahkan melontarkan kritik terhadap kepemimpinan Buche Brikmar sebagai Ketua DPRD Alor. Ebenhaezer menilai fungsi pengawasan legislatif terhadap eksekutif tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ia menyebut Ketua DPRD Alor sebagai politisi yang “takut bayangan”.

Menurut Ebenhaezer, masyarakat berhak mengetahui bagaimana DPRD menjalankan fungsi pengawasan, terutama ketika muncul persoalan mengenai jalannya pemerintahan daerah.

Ebenhaezer kemudian menyinggung kondisi kesehatan Bupati Iskandar Lakamau yang disebutnya sedang sakit berat. Ia meminta Ketua DPRD Alor tidak hanya diam, tetapi segera mencari solusi mengenai keberlanjutan kepemimpinan pemerintahan daerah.

BACA JUGA:  Beredar Surat Rekrutmen Komisaris Bank NTT, Melki Tegaskan Pengisian Pejabat BUMD Akan Diproses Setelah Pelantikan

“Jangan Bupati sakit, antek-antek Bupati menguasai Kantor Bupati Alor, bikin memo sembarang, kerja sembarang, tunjuk kepala dinas sembarang,” jelasnya.

Ebenhaezer menuding adanya pihak-pihak yang disebutnya sebagai “antek-antek” yang mengambil peran ketika Bupati sedang sakit.

Ia juga menyebut adanya dugaan ketidaksinkronan dalam pelaksanaan birokrasi, mulai dari kepala dinas, protokol hingga sekretaris daerah.

Ebenhaezer menilai persoalan tersebut semestinya menjadi ruang bagi DPRD untuk menjalankan fungsi pengawasan.

Ia meminta Ketua DPRD Alor pertimbangkan secara serius apakah kepemimpinan Bupati Iskandar Lakamau dapat dilanjutkan dalam kondisi kesehatan yang disebutnya sedang terganggu.

“Anda duduk pangku tangan, seolah-olah anda itu wakil rakyat tapi boneka dan malaikat tidak berdosa,” jelasnya.

BACA JUGA:  Aktivis Kecam Prilaku Bupati Alor yang Diduga Kunjungi Rumah Perempuan di Malam Hari

Menurutnya, DPRD tidak boleh hanya menunggu dan harus hadir ketika masyarakat mempertanyakan jalannya pemerintahan.

“Jalankan fungsi sebagai seorang Ketua DPRD yang sebaik-baiknya. Jangan pikir untuk bertarung 2029, tapi pikir kebutuhan rakyat saat ini,” tegas Ebenhaezer.

Ketua DPRD Alor Paulus Buche Brikmar menanggapi santai kritik yang dilibatkan Ebenhaezer. Ia mengatakan setiap orang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat maupun kritik.

Menurutnya, kritik yang disampaikan Ebenhaezer merupakan bagian dari kebebasan masyarakat dalam menyampaikan persepsi terhadap kinerja pemerintah dan DPRD.

“Tidak terlalu penting. Soal kritik ya silahkan, setiap orang punya hak untuk sampaikan persepsi masing-masing, dan kita hormati itu,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!