KUPANG, HN – Produk zat pengatur tumbuh tanaman ATONIK disebut ikut berkontribusi mendorong Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk lima besar daerah swasembada pangan di Indonesia pada tahun 2025. Produk ATONIK juga dilaporkan makin banyak digunakan petani di berbagai wilayah NTT.
Direktur PT OAT Mitoku Agrio, Suryadi Jaya, menyebut produk ATONIK yang diproduksi perusahaannya sudah hadir di Indonesia selama hampir setengah abad.
“Perusahaan kami yang memproduksi ATONIK. Di Indonesia sendiri, ATONIK sudah masuk usia 50 tahun pada 2026 ini,” kata Suryadi kepada wartawan di Kupang, Jumat 6 Maret 2026.
Dia menjelaskan, selama bertahun-tahun pemasaran ATONIK lebih banyak difokuskan di Pulau Jawa dan Sumatera. Namun sejak pandemi Covid-19, perusahaan mulai memperluas distribusi ke kawasan Indonesia Timur, termasuk NTT.
“Selama ini kita hanya fokus di Sumatera dan Jawa. Jadi semenjak Covid, kita baru mulai fokus ke Indonesia Timur,” jelasnya.
Direktur PT Mitoku Sukses Makmur, Agustinus Tamo Mbapa mengatakan ATONIK pertama kali masuk ke NTT sekitar tahun 2020. Awalnya produk itu diperkenalkan melalui demonstrasi plot (demplot) pertanian.
Menurut dia, produk ATONIK mulai digunakan di kebun milik Uskup Keuskupan Agung Kupang saat itu, Petrus Turang, di Noelbaki, Kabupaten Kupang.
“Awalnya kami buat demplot ATONIK di kebun Uskup Keuskupan Agung Kupang, Alm. Petrus Turang di Noelbaki. Beliau senang dengan kehadiran ATONIK karena memang sudah sering menggunakan produk ini,” jelas Gustaf.
Sejak saat itu, penggunaan ATONIK terus berkembang hingga kini telah digunakan oleh petani di hampir seluruh kabupaten di NTT.
Gustaf menyebut wilayah Manggarai Raya menjadi daerah dengan penggunaan ATONIK paling maksimal di NTT. Dampaknya terlihat pada peningkatan produksi pertanian.
Menurutnya, produksi jagung dan padi di Manggarai Raya mencapai sekitar 8 ton per hektar. Selain itu, produksi hortikultura juga meningkat signifikan.
“Panen di Manggarai Raya itu jagung 8 ton per hektar, padi juga 8 ton per hektar, dan hortikultura juga terbesar. Bahkan masyarakat di Labuan Bajo menikmati hasil hortikultura dari penggunaan ATONIK,” jelasnya.
Gustaf menilai peningkatan produksi pertanian ikut mendorong Provinsi Nusa Tenggara Timur masuk dalam peringkat lima besar daerah swasembada pangan di tahun 2025.
Dia mencontohkan panen raya yang dilakukan di Manggarai Timur tahun 2022. Kegiatan itu, sejumlah pejabat daerah dan perwakilan dari Jepang hadir untuk melihat langsung hasil penggunaan ATONIK.
Para petani, kata dia, mengaku mampu menghasilkan padi hingga 8-9 ton per hektar. Penggunaan ATONIK untuk satu hektare lahan sekitar 4 liter. Sedangkan harga per botol ATONIK Rp200 ribu.
“Keuntungan yang didapat petani bisa sekitar Rp5 sampai Rp6 juta. Bahkan ada petani bawang yang panen 17 ton per hektar. Hasil jualannya langsung dipakai beli mobil pick up baru,” ujarnya.
Menurut dia, penggunaan ATONIK tetap harus diimbangi dengan pemupukan yang baik. “Kalau diibaratkan, ATONIK itu vitamin, sedangkan pupuk itu nasi,” jelas Gustaf.
Pihak perusahaan juga mengaku telah berdiskusi dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena terkait strategi pemanfaatan lahan pertanian di NTT.
Gustaf menyebut NTT memiliki sekitar 1,8 juta hektare lahan kosong yang berpotensi dikembangkan untuk sektor pertanian.
“Kami sudah bertemu gubernur dan Kadis Pertanian untuk bicarakan bagaimana lahan kosong itu bisa dimaksimalkan untuk kepentingan petani, dan ATONIK ini menjadi salah satu elemen yang bisa dimaksimalkan,” jelasnya.
Di sisi lain, perusahaan juga mengingatkan masyarakat terkait maraknya peredaran produk ATONIK palsu di pasaran, termasuk di Kota Kupang.
“Masyarakat harus hati hati membeli ATONIK, terutama melalui penjualan online. Harus memastikan produk dibeli melalui jalur resmi demi menjamin hasil pertanian yang maksimal,” pungkasnya.
Kuasa hukum PT OAT Mitoku Agrio, Fransisco Bessi, mengatakan pihaknya telah melaporkan kasus tersebut kepada aparat penegak hukum.
“Sudah teridentifikasi semua, bagaimana cara mereka membuat produk palsu itu, siapa orangnya, dan tempatnya di mana,” ujar Fransisco Bessi.
Fransisco meminta pihak yang masih memproduksi dan menggunakan produk ATONIK palsu agar segera menghentikan aktivitas tersebut karena dinilai merugikan petani.
“Petani ini adalah penyangga dasar republik ini. Bagaimana petani yang mau mengembangkan usahanya justru ditipu dengan produk palsu,” tandasnya.***

