KUPANG, HN – Calon Ketua Pengurus Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Swasti Sari, Yohanes Sason Helan (YSH), membeberkan dugaan adanya skenario licik yang disusun untuk menjegalnya maju sebagai ketua pengurus KSP Kopdit Swasti Sari.
Mantan calon anggota DPR RI ini menilai ada rangkaian tahapan yang sengaja dimainkan oleh pihak tertentu agar dirinya tidak menempati posisi nomor satu di tubuh KSP Kopdit Swasti Sari.
“Ada skenario supaya saya dihantam sehingga tidak jadi nomor satu di pengurus. Kita lihat skenario yang dibangun kan begitu,” ujar Sason Helan kepada wartawan, Senin 27 April 2026.
Dia menduga skenario itu bukan baru disusun menjelang pemilihan, tetapi dimainkan sejak lama, terutama setelah dirinya tidak lagi berada dalam lingkup manajemen Swasti Sari selama iga tahun terakhir.
“Dan itu saya menduga mereka sudah bermain lama setelah tiga tahun saya tidak lagi berada di Swasti Sari,” jelas Sason Helan.
Menurut dia, seluruh rangkaian proses yang terjadi menunjukkan adanya kepentingan tertentu dari sejumlah pihak yang ada di KSP Kopdit Swasti Sari.
“Permainan ini kan ada kepentingan. Kenapa mereka setting sampai begini. Mereka setting bukan baru saat ini. Ada beberapa tahap yang mereka skenariokan,” katanya.
Pria asal Adonara, Flores Timur (Flotim) itu lalu merinci tahapan yang disebutnya sebagai skenario untuk menjegal dirinya.
Dia menyebut tahap awal dimulai saat pembentukan panitia pemilihan. Menurutnya, ketika namanya masuk sebagai calon, tiba-tiba dilakukan perubahan Anggaran Dasar (AD) secara mendadak.
Sason Helan kemudian menduga bahwa perubahan itu diarahkan untuk menggugurkan dirinya lewat syarat pendidikan.
“Pertama itu bagaimana skenario SK pembentukan panitia pemilihan. Setelah mereka melihat nama saya ada, tiba-tiba mereka buat amandemen anggaran dasar dadakan,” ungkapnya.
“Itu kan ada kepentingan supaya bisa menggugurkan saya dalam hal ini ijazah. Karena ijazah saya D3. Mereka mau harus yang S1,” lanjut YSH.
Tahap berikutnya, kata dia, terjadi pada panitia seleksi (pansel). Ia menilai kewenangan pansel justru diambil alih oleh pengurus lama. Padahal, pansel semestinya bekerja penuh sampai pelantikan pengurus dan pengawas baru.
“Sebenarnya pansel itu kan bekerja sampai dengan pelantikan badan pengurus pengawas baru. Jadi peralihan dari pansel ke pengurus ini kan artinya pengurus juga sudah punya kepentingan,” tegasnya.
Sason Helan juga turut mengkritik proses Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) yang menurutnya berjalan lambat dan tidak ideal.
Dia menilai seharusnya calon ditetapkan tiga hingga empat bulan sebelumnya agar anggota bisa mengenal kualitas dan kapasitas para kandidat.
“Sebenarnya kita mau itu harus mendapatkan calon-calon yang berkualitas. Berarti paling tidak tiga atau empat bulan sudah ditentukan jadi calon supaya mereka bisa sosialisasi diri agar anggota bisa tahu kemampuan dan bidang mereka itu seperti apa,” terangnya.
Dia mengaku ada juga upaya dari oknum tertentu untuk menjegal dirinya dalam Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK) melalui isu-isu murahan.
“Mereka juga rencana gugurkan saya di UKK. Sehingga isu yang sampai di Deputi dan Kementerian Koperasi itu adalah bahwa saya ini pemimpin kudeta di RAT. Itu bahasa yang jelek dan tidak pantas,” ujarnya.
Namun, YSH menyebut upaya itu gagal karena dirinya justru dinyatakan lulus Uji Kelayakan dan Kepatutan (UKK).
“Saya justru menjadi orang pertama yang menerima kelulusan UKK dengan posisi sebagai calon ketua. Itu jelas SK langsung dari Deputi Pengawasan Kementerian Koperasi,” jelasnya.
Pada tahap pemilihan, Yohanes Sason Helan mengklaim memperoleh dukungan dominan dari 30 cabang KSP Kopdit Swasti Sari di NTT.
“Dan titik terakhir adalah pemilihan. Pemilihan itu saya mendapatkan suara yang dominan. Suara terakhir dari 30 cabang KSP Swasti Sari adalah 2.330,” ujarnya.
Ia menyebut pesaing terdekatnya, Welem Geri, hanya meraih sekitar 1.100 suara lebih. “Sedangkan urutan kedua itu Welem Geri yang melamar di bidang Wakil Ketua I bidang pendidikan itu hanya 1.100 lebih suara,” terangnya.
“Jadi antara saya dengan dia saja saya sudah kasi tinggal perolehan suara sekitar 100 persen lebih. Tapi anehnya justru dia bisa posisi ketua,” sambung Sason Helan.
YSH lalu membeberkan pertemuan pada 17 April, saat para calon diundang mengikuti pleno suara dan pembahasan komposisi pengurus.
Dalam forum itu, seluruh calon diberi kesempatan berdialog dan kemudian diminta menyatakan kesediaan mengisi posisi tertentu.
“Tanggal 17 April itu kami diundang untuk pleno suara dan penempatan komposisi. Setelah itu kami diberikan kesempatan untuk berdialog. Setelah itu kami diberi skor oleh pengurus untuk kami menempatkan komposisi,” jelasnya.
Saat ditanya apakah bersedia menjadi ketua, Yohanes Sason Helan mengaku langsung menyatakan siap.
“Saya ditanya bersedia tidak jadi ketua. Dan saya jawab, demi amanat RAT dan suara anggota adalah suara Tuhan, maka saya akan melaksanakan tugas itu,” katanya.
Menurut Yohanes Sason Helan, suasana forum berubah setelah kandidat lain juga menyatakan ingin menjadi ketua pengurus KSP Kopdit Swasti Sari.
“Tiba-tiba yang lain juga berteriak bahwa mereka juga ingin jadi ketua. Akhirnya saya keluar dari ruangan dan pulang. Pansel juga ketuk palu untuk menutup rapat,” ujarnya.
Dengan demikian, kata dia, rapat saat itu tidak menghasilkan keputusan apa pun terkait komposisi pengurus.
“Artinya tidak menghasilkan satu keputusan soal komposisi pengurus itu. Jadi saya bilang persoalan ini kita bawa ke RAT. Karena RAT adalah keputusan tertinggi,” tegasnya.
Dia mengaku kecewa karena setelah forum tersebut justru dilakukan voting ulang untuk menentukan komposisi pengurus. Menurutnya, hasil voting itu menetapkan Welem Geri sebagai Ketua Pengurus.
“Tapi mirisnya, mereka mulai mensiasati untuk melakukan pemilihan ulang lewat voting dan memutuskan komposisi pengurus itu, dan ketuanya itu Welem Geri. Itu skenario yang mereka bangun,” pungkasnya.***

