KUPANG, HN – Kepala Sekolah Keberbakatan Olahraga (SKO) Flobamorata Kupang, Hironimus Pati, buka suara soal polemik pemberhentian atlet taekwondo peraih medali emas, Fernando Tibo Olla dari SKO. Menurut dia, keputusan itu bukan tindakan sepihak, tetapi hasil evaluasi rutin berbasis sistem yang berlaku di SKO Flobamorata Kupang.
Menurut Hironimus, Fernando tidak sendirian. Sebanyak lima atlet dari cabang olahraga berbeda turut didegradasi dari sekolah. Mereka berasal dari cabang kriket, sepak bola, pencak silat, dan wushu.
“Keputusan ini berdasarkan evaluasi menyeluruh dari sejumlah variabel yakni kesehatan, akademik, dan perkembangan olahraga para atlet,” ujar Hironimus kepada wartawan di Kupang, Jumat 11 Juli 2025.
Dia menyebut, SKO Flobamorata merupakan sekolah dengan layanan khusus untuk anak-anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang olahraga.
Berbeda dengan SMA atau SMK reguler, SKO menerapkan sistem evaluasi berlapis, baik secara triwulan, semester dan tahunan dengan alat evaluasi yang terukur.
“Konkritnya, di SKO ini ada tiga raport yang kemudian dikasih ke peserta didik atau para atlet. Yaitu akademik, raport olahraga, dan terakhir itu raport pintar,” jelasnya.
Hironimus mengatakan, setiap peserta didik yang masuk, termasuk Fernando, wajib tandatangani komitmen bersama orang tua di atas materai. Komitmen ini menjadi dasar evaluasi setiap tahun.
“Jari itu secara tahunan kami uji di alat evaluasi, yaitu raport pintar. Ada beberapa variabel disitu, mulai dari disiplin, ketangguhan, karakter, perkembangan olahraga, akademik dan perkembangan prestasi,” ungkapnya.
Jika, kata Hironimus, seorang atlet dinilai tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa triwulan evaluasi, maka yang bersangkutan bisa degradasi.
“Jadi semua SKO di Indonesia itu punya manajemen khusus yang namanya promosi dan degradasi,” jelas Hironimus.
Hironimus menegaskan, status degradasi bukan berarti peserta didik dikeluarkan sepenuhnya atau dropout. Mereka tetap difasilitasi untuk melanjutkan pendidikan di sekolah reguler.
“Kami sudah sampaikan ke orang tua dan Dinas Pendidikan, lengkap dengan dokumen evaluasi dan rapor. Fernando dan empat atlet lain hanya dialihkan ke sekolah umum karena tidak memenuhi standar pembinaan olahraga di SKO,” jelasnya.
Dia menjelaskan pergantian dilakukan sesuai kuota dan kebutuhan cabor. Instruktur sudah merekomendasikan pergantian Fernando sesuai hasil teleskoping karena perkembangan olahraganya stagnan.
SKO Flobamorata saat ini tengah fokus persiapkan atlet pelajar untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, di mana NTT dan NTB menjadi tuan rumah bersama. Karena itu, standar pembinaan harus diperketat.
“Kami sangat dukung perjuangan pemerintah, dan sebagai lembaga yang dibiayai melalui APBD I, maka jaminan utama dari anak-anak ini adalah prestasi,” kata Hironimus.
“Kalau kami terima atlet yang tidak berkembang, itu merugikan pemerintah. SKO harus adaptif dan selektif,” tegas Hironimus.
Terkait permintaan Fernando dikembalikan ke SKO, Hironimus menyebut hal itu perlu dipikirkan secara adil.
“Jika Fernando dikembalikan, lalu bagaimana dengan empat atlet lain yang juga didegradasi dengan proses yang sama?” tuturnya.
“SKO bukan tempat menampung semua anak, tetapi wadah melahirkan atlet unggulan dengan disiplin tinggi dan karakter tangguh. Mari dukung SKO menjadi rumah terbaik bagi calon atlet NTT,” pungkasnya.***

