Persebata Lembata “Raja Tanpa Mahkota” yang Tak Pernah Lelah Menggugat Takdir

Pelatih dan skuad Persebata Lembata (Foto: Ist)

KUPANG, HN – Lembata bukan kota sepak bola. Mereka tak punya stadion megah, tak punya akademi berlisensi FIFA, apalagi infrastruktur modern. Stadion utama mereka, GOR Gelora 99 di Kota Lewoleba, bahkan lebih mirip lapangan rakyat dengan tribun seadanya.

Tapi dari tempat itu semangat punggawa Persebata berkobar, seperti bara dalam sekam yang tak pernah padam. Setiap musim kompetisi bergulir, Persebata datang seperti pejuang perang. Mereka datang dengan satu hal yang tak bisa dibeli, yaitu lambang di dada.

Sepak bola, bagi sebagian besar orang, adalah soal gol, trofi, selebrasi, dan sorak-sorai. Tapi di Lembata, sepak bola juga soal nasib baik yang sering terlambat datang. Dan Persebata, tampaknya sedang berdamai dengan satu gelar baru, yaitu “Raja Tanpa Mahkota”.

Bagaimana tidak, dua kali berdiri di altar final El Tari Memorial Cup (ETMC), turnamen paling “sakral” di Nusa Tenggara Timur, dua kali pula Persebata Lembata harus terjungkal di partai puncak. Mereka hanya bisa gigit medali perak.

BACA JUGA:  Sambut Dies Natalis ke-61, SMA Katolik Giovanni Kupang Gelar Turnamen Givans Cup II 2023

Tahun 2022, Persebata jadi tuan rumah El Tari Memorial Cup (ETMC). Semua doa dipanjatkan. Saat itu Laskar Sembur Paus berdiri gagah di partai final. Lawan mereka adalah Perse Ende. Namun sepak bola hanya mengizinkan satu pemenang.

Saat itu, Persebata kalah. Bukan dalam waktu normal, bukan pula karena tidak mampu. Tetapi karena sesuatu yang disebut “drama adu penalti”. Ritual kejam yang membunuh mimpi tanpa ampun.

Empat tahun berlalu, El Tari Memorial Cup (ETMC) datang lagi, dan digelar di Kota Kupang tahun 2025. Kali ini, giliran Macan Batas, julukan Bintang Timur Atambua menembus partai puncak.

BACA JUGA:  Kuasa Hukum PS Bank NTT Sebut Gugatan Izhak Rihi Tidak Realistis, Hakim Diminta Bersikap Netral

Persebata pun demikan. Melangkah sampai akhir dengan peluh, tekad, dan optimisme. Tapi apa daya, dewi fortuna belum berpihak. Lagi-lagi mereka kalah. Lagi-lagi di final. Lagi-lagi lewat drama adu penalti.

Seakan semesta belum rela memberi mereka mahkota. Tapi Persebata bukanlah tim cengeng yang suka menangisi nasib. Mereka memilih “mengutuknya” dengan aksi dan perjuangan bak gladiator di gelanggang tarung.

Seperti paus yang menyembur air di tengah samudera, Persebata tahu caranya muncul tiba-tiba ke permukaan. Meski gagal meraih juara ETMC, mereka tetap mendapat tiket ke Liga 4 Nasional.

Persebata lolos ke Liga 4 Nasional bersama dua wakil NTT lainnya, Perseftim Flores Timur dan sang juara ETMC 2025, Bintang Timur Atambua (BTA).

BACA JUGA:  Argentina Siap Ganti Indonesia Jadi Tuan Rumah Piala Dunia U-20

Namun sepak bola selalu punya cara mengejutkan. Yang dielu-elukan justru gugur lebih cepat. BTA dan Perseftim harus pulang lebih awal, ditaklukkan atmosfer Liga Nasional yang lebih beringas.

Sedangkan Persebata, peraih medali perak dua kali itu melaju dengan tenang tanpa hingar bingar. Mereka menembus babak delapan besar Liga 4 Nasional.

Mereka terus berjuang, seolah tak pernah lelah menggugat takdir untuk menunjukan bahwa Persebata adalah tim yang patut diperhitungkan, baik di level daerah maupun tingkat nasional.

Kini, musim baru menanti. Persebata siap tampil di Liga 3 Nasional. Masih tanpa mahkota, mungkin. Tapi mereka membawa luka-luka dari final yang menjadi peluru motivasi.

Kekalahan bukan akhir. Itu hanya jeda. Perjalanan masih panjang. Laskar Sembur Paus siap menyelam lebih dalam, dan menyembur lebih tinggi.***

error: Content is protected !!