KUPANG, HN – Gubernur Melki Laka Lena membeberkan hasil penilaian nasional tentang kualitas pendidikan di NTT, terutama kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung pada siswa sekolah dasar. Ia menilai pembenahan sistem pendidikan harus dimulai dari level pendidikan dasar.
Melki mengatakan itu saat menghadiri Pentas Seni (Pensi) SDK Don Bosco 3 Kupang bertema “Bersatu dalam Kreativitas, Berbeda dalam Warna di Panggung Persaudaraan” di Aula El Tari, Kupang, Jumat 13 Maret 2026.
Melki menyebut hasil penilaian nasional, kualitas pendidikan di NTT masih berada pada kategori rendah. Salah satu persoalan utama adalah lemahnya kemampuan literasi dan numerasi yang seharusnya sudah dikuasai sejak jenjang SD.
“Saya pernah menemukan bahkan di tingkat SMA masih ada sekitar 30 sampai 40 persen anak yang kemampuan baca, tulis, dan hitungnya bermasalah. Bahkan ada laporan mahasiswa yang sudah sampai tahap skripsi, tetapi ternyata kemampuan baca tulisnya belum baik,” kata Melki.
Ia menegaskan kondisi tersebut menunjukkan fondasi pendidikan dasar belum berjalan optimal. Karena itu, perbaikan pendidikan menurutnya harus dimulai dari sekolah dasar, bukan hanya pada jenjang menengah atau perguruan tinggi.
“Kalau memperbaiki pendidikan dimulai dari SMP atau SMA itu sudah berat. Kuncinya ada di SD. Hampir semua anak usia SD bersekolah, lebih dari 90 persen. Tetapi ketika masuk SMP tinggal sekitar 50 persen, dan saat SMA hanya sekitar 25 persen yang melanjutkan,” ujarnya.
Melki juga mengkritik sistem kenaikan kelas yang dinilai terlalu longgar sehingga tidak mendorong peningkatan kualitas belajar siswa. Ia meminta dinas pendidikan dan pemerintah daerah meninjau kembali regulasi tersebut agar tidak menurunkan standar pendidikan.
“Kalau anak tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung tetapi tetap naik kelas, maka masalahnya akan terus terbawa sampai jenjang berikutnya. Kalau SD sudah jebol, maka SMP dan SMA pasti bermasalah,” tegasnya.
Ia mengusulkan agar sistem pendidikan memberi ruang untuk menahan siswa di kelas tertentu jika kemampuan dasar mereka belum terpenuhi, selama tetap sesuai dengan regulasi yang berlaku.
“Kita perlu melihat kembali regulasinya. Jangan sampai semua anak naik kelas tanpa memastikan kemampuan dasar mereka. Kalau tidak, kualitas pendidikan kita akan terus turun,” kata Melki.
Selain itu, Melki menyoroti perubahan pola hubungan antara orang tua dan guru yang dinilai ikut mempengaruhi disiplin pendidikan. Menurutnya, pada masa lalu guru mendapat kepercayaan penuh dari orang tua dalam mendidik anak.
“Dulu kalau guru menegur atau menindak anak yang tidak disiplin, orang tua justru mendukung. Sekarang seringkali justru guru yang dipersoalkan. Ini juga harus kita koreksi bersama,” ujarnya.
Dalam konteks perbaikan pendidikan, Melki meminta Kota Kupang menjadikan pembenahan pendidikan dasar sebagai prioritas sehingga dapat menjadi contoh bagi daerah lain di NTT.
“Karena ini wilayah Kota Kupang, saya berharap kota ini bisa menjadi model dalam membenahi pendidikan dasar, supaya kualitas pendidikan NTT juga ikut naik,” katanya.
Ia juga mendorong keterlibatan orang tua dan alumni sekolah dalam mendukung pengembangan pendidikan. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak penting untuk memperkuat kualitas pembelajaran di sekolah.
“Orang tua harus menjadi bagian dari pendidikan anak. Alumni juga bisa terlibat membantu sekolah agar kualitas pendidikan semakin baik,” kata Melki.
Di sisi lain, Melki menilai pendidikan tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga pengembangan karakter, kreativitas, serta seni dan budaya. Kegiatan pentas seni sekolah dinilai menjadi ruang penting bagi anak untuk mengembangkan potensi tersebut.
“Manusia yang utuh bukan hanya pintar secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepekaan seni dan budaya. Kegiatan seperti pentas seni memberi ruang bagi anak-anak untuk berkembang,” ujarnya.
Melki juga menyinggung peran SDK Don Bosco 3 Kupang dalam melahirkan pemimpin daerah. Ia menyebut dirinya dan Wali Kota Kupang Christian Widodo sama-sama pernah menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
“Sejarah mencatat Wali Kota Kupang dan Gubernur NTT sama-sama pernah bersekolah di Don Bosco. Ini menunjukkan sekolah ini telah melahirkan banyak pemimpin,” katanya.
Sementara itu, Christian Widodo menilai kegiatan pentas seni sekolah turut membantu pemerintah daerah dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter.
Menurutnya, kegiatan seni memberikan ruang bagi siswa untuk belajar keberanian, kreativitas, dan kerja keras.
“Pentas seni adalah tempat anak-anak berkreasi, berani tampil, dan menunjukkan bakat mereka. Dari situ karakter mereka terbentuk,” kata Christian.
Ia menambahkan pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari kemajuan fisik seperti gedung dan jalan, tetapi juga dari kualitas karakter masyarakatnya.
“Membangun kota bukan hanya menghadirkan gedung tinggi dan jalan yang bagus, tetapi juga bagaimana membangun karakter manusianya agar saling menghargai dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik,” ujarnya.
Kegiatan pentas seni tersebut turut dihadiri perwakilan Yayasan Swastisari Keuskupan Agung Kupang, Romo Konradus Tekeneng, Kepala SDK Don Bosco 3 Kupang Sr. Martha Maria Fatimah Nabu, para suster, guru, tenaga kependidikan, serta orang tua siswa.***

