Herman Hilungara, Umbu Rudi, dan BPIP Gerakkan Ideologi dari Kampung-kampung Sumba Timur

WAINGAPU, HN – Mimbar sederhana di Gedung Gereja Kristen Sumba (GKS) Tanarara, Kecamatan Matawai La Pawu, Sumba Timur, tak lebih dari panggung kecil beralas karpet. Tak ada layar LED, tak ada sorotan kamera media nasional. Namun, dari tempat ini, suara tentang Pancasila kembali didengungkan—bukan sebagai jargon elite, tapi sebagai jalan hidup yang diajarkan dari bawah.

Selasa siang, 5 Agustus 2025, tokoh muda Sumba Timur, Herman Hilungara, berdiri di depan sekitar 300 relawan yang datang dari berbagai kampung. Ia tak berteriak, tapi kata-katanya seperti menyengat ruang.
“Keluar sore, pulang pagi. Tidur pagi, bangun sore. Hidup semau gue… Emang gue pikirin,” ujarnya, menirukan gaya hidup anak muda masa kini yang ia nilai telah kehilangan arah.

Di hadapan peserta forum Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila—program hasil kolaborasi Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr. Umbu Rudi Kabunang, dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)—Herman bicara lantang soal krisis identitas generasi muda yang terjebak gaya hidup instan, pamer kesenangan, dan ketergantungan digital. “Siang dijadikan malam, malam dijadikan siang,” kata Herman. “Hidup seperti itu menjauhkan kita dari cita-cita bangsa.”

BACA JUGA:  Alex Riwu Kaho Kokoh di Pucuk Pimpinan Pasca RUPS LB Bank NTT

Kompas Moral dari Tanarara

Herman tak sekadar mengkritik. Ia mengajukan jalan pulang: kembali pada nilai-nilai Pancasila. Bagi dia, ideologi negara itu bukan sekadar hapalan dalam upacara, melainkan kompas moral yang mengarahkan hidup agar tidak terseret arus zaman.

Ia menguraikan lima langkah konkret: mengubah pola pikir konsumtif menjadi produktif, mendalami sila-sila Pancasila, aktif dalam kegiatan sosial, menggunakan media sosial dengan bijak, dan berpartisipasi aktif dalam demokrasi tanpa kehilangan rasa hormat pada perbedaan.

“Kalau Pancasila tidak dihidupi, ia hanya akan jadi simbol kosong di dinding-dinding kantor,” katanya.

Pancasila: Dari Kampung, Bukan dari Hotel

Dalam forum itu, Purno Utomo, Kepala Biro Pengawasan Internal BPIP, menyebut Tanarara sebagai contoh penting. “Acara seperti ini biasa digelar di hotel, tapi Dr. Umbu Rudi memilih desa. Ini bukan kebetulan. Di sini, nilai-nilai Pancasila sudah hidup secara organik,” ujarnya.

BACA JUGA:  Mau Pulang Kampung Tanpa Biaya? Ayo Ikuti Program Mudik Gratis dari BUMN

Gotong royong, musyawarah, dan keadilan sosial, menurut Purno, telah lama menjadi praktik sehari-hari masyarakat Sumba. Apa yang dilakukan BPIP dan DPR RI, lanjutnya, hanyalah menyulut kembali api ideologi yang nyaris padam oleh globalisasi dan budaya instan.

Sejarah panjang BPIP—dari BP-7 Orde Baru, UKP-PIP di era Jokowi, hingga kini menjadi lembaga negara permanen—menunjukkan tekad negara untuk menjaga dan menyebarkan nilai-nilai dasar kebangsaan. Tapi, seperti yang dikatakan Hermanus, “Semua itu akan sia-sia jika tidak menyentuh hati dan nalar generasi muda.”

Narasi dari Pinggiran

Dr. Umbu Rudi Kabunang, legislator asal Sumba Timur, yang juga penggagas utama kegiatan ini, tidak banyak retorika. Ia memilih bekerja diam-diam, menanamkan ideologi dari pinggiran.
“Pancasila bukan milik elite. Ia milik rakyat. Dan rakyatlah yang paling berhak menjaganya,” tegasnya.

Bagi Umbu Rudi, Sumba Timur bukanlah daerah marjinal. Ia adalah pusat moralitas sosial yang masih hidup. “Negara harus belajar dari kampung. Dari cara mereka menyelesaikan persoalan tanpa membelah,” ujarnya.

BACA JUGA:  Adhitya dan Advokat dari NTT Lulus Diklat Penanganan Sengketa Pilkada untuk Pemilu 2024

Ia menyebut NTT sebagai “Nusa Terindah Toleransinya.” Baginya, tugas legislator tak selesai di parlemen, tapi berlanjut hingga ke perkampungan yang jauh dari sorotan kamera. “Kalau kita bisa tanam Pancasila di Tanarara, kita bisa tanam di seluruh Indonesia,” katanya.

Gerakan dari Tanarara

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi bagian dari gerakan nasional yang sedang dirancang Komisi XIII DPR RI dan BPIP. Targetnya ambisius: melahirkan simpul-simpul relawan Pancasila dari desa-desa seluruh Indonesia—berakar, bukan bertopeng.

Forum ditutup dengan tepuk tangan panjang. Diwarnai kuis seputar Pancasila, pemberian hadiah, dan tarian khas Sumba yang menggambarkan semangat kebersamaan. Tak ada pejabat yang tampil mewah. Tak ada panggung yang berkilau. Tapi dari panggung kecil itu, suara kebangsaan menggema ke bukit-bukit sabana: Indonesia masih punya harapan, asalkan ideologi tak cuma dibicarakan, tapi dihidupi.***

error: Content is protected !!