KUPANG, HN – Wacana koalisi antara kubu Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar dengan Ganjar Pranowo – Mahfud MD kembali mendapat sorotan.
Peluang koalisi paslon nomor urut 1 dan 3 itu dinilai menipis, setelah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok memilih turun gunung untuk mendukung Ganjar-Mahfud.
Bergabungnya Ahok ke kubu Ganjar – Mahfud membuat PDIP diprediksi gagal menang tiga kali beruntun atau hattrick di Pilpres nanti.
Ahok pun buka suara perihal isu yang sedang hangat, mengenai peluang koalisi Anies-Ganjar, jika Pilpres harus berlanjut ke putaran kedua.
Secara tegas, mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyatakan koalisi Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo tidak mungkin terjadi.
“PDI Perjuangan hanya akan mendorong kader sendiri, kami yakin nggak mungkin,” ujar Ahok di Kupang, Kamis 8 Februari 2024.
Ahok mengungkapkan Megawati pernah menyebut dirinya cukup dekat dengan Anies Baswedan. Namun, la lebih memilih mencalonkan Ahok dan menjadi lawan Anies di Pilgub DKI Jakarta 2017.
“Waktu itu Ibu Mega bilang sama saya, kalau saya (Mega) sama Anies ini dekat loh Pak Ahok. Saya dekat tapi kenapa saya tidak mendukungnya jadi Gubernur DKI, kenapa saya harus dukung Pak Ahok? Karena, saya melihat rekam jejak,” jelasnya.
“Kalau orang yang rekam jejak nggak jelas bekerja, cuma pintar ngomong, nggak mungkin saya dukung,” sambung Ahok menirukan perkataan Megawati.
Sedangkan capres nomor urut 1 Anies Baswedan menyebut peluang koalisi paslon nomor 1 dan 3 tergantung hasil putaran pertama Pilpres 2024.
Isu wacana koalisi antara paslon nomor urut 1 dan 3 jika pilpres 2024 berlangsung dua putaran kian hangat. Sejumlah lembaga survei juga merilis potensi besar Pilpres 2024 berlanjut ke putaran kedua.
Namun peluang koalisi ini bakal sulit karena Ahok bergabung untuk memenangkan Ganjar. Diketahui, Ahok merupakan lawan politik Anies di Pilgub DKI Jakarta. Ahok bahkan sampai dipenjara dalam kasus penistaan agama.***

