Suku Tujuh Kampung: Frans Aba Tak Punya Utang Politik dan Bukan ‘Boneka’ Orang 

KUPANG, HN – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Provinsi NTT  2024, terasa masih sangat jauh. Namun sejumlah figur calon gubernur, sudah mulai disebutkan namanya dan tampil di tengah rakyat untuk memperkenalkan diri.

Kehadiran para figur calon gubernur itu, kembali menghangatkan ingatan rakyat NTT, akan peristiwa-peristiwa politik sebelumya.

Seperti hal yang disampaikan Nor Lobo, tetua suku lingkaran Nua Lima Zua (Suku Tujuh Kampung) kepada calon Gubernur NTT, Frans Aba belum lama ini di Kota Bajawa, Kabupaten Ngada.

Kata Nor Lobo, Frans Aba memiliki aura menjadi Gubernur NTT. Tidak hanya itu tetapi memiliki semangat dan gagasan yang berbeda membangun NTT. Dan lebih penting Frans Aba tidak punya utang politik atau ‘boneka’ orang-orang tertentu.

“Pak Frans tidak punya utang politik atau jadi ‘bonekanya’ orang tertentu. Beliau punya aura, semangat, dan terutama gagasan yang berbeda tetapi tegas dan jelas. Jangan seperti yang lain ‘Mali nga mange nenga we’e, mali nga boo nenga gholo yang artinya kalau lapar mulai mendekat, tapi kalau sudah kenyang akan menghilang atau mundur perlahan,” ungkapnya.

Nor Lobo mengatakan, keluarga Nua Lima Zua mendoakan dan mendukung Frans Aba sebagai Gubernur NTT. Bahwa Frans Aba adalah anak yang baik, muda, energik, berpengalaman dan karismatik.

“Kami sekeluarga dan satu rumpun yang mewakili Ngada, siap menjadi lilin-lilin kecil yang mendoakan dan mendukung Pak Frans jadi Gubernur NTT. Apalagi yang kurang dari Pak Frans? Semua sudah dimiliki dan beliau pantas jadi pemimpin kami,” kata Nor Lobo.

BACA JUGA:  Frans Aba Diterima dengan Adat ‘Kago Mae’ dalam Safari Politik di Bajawa NTT

Dikatakannya, mendengar dan menyimak pikiran-pikiran Frans Aba saat deklarasi dan sosialisasi di beberapa kampung, sudah saatnya Frans Aba memimpin NTT.

Jangan sampai NTT dipimpin oleh orang-orang yang sama, beda nama tetapi berbuat yang sama.

“Kita lihat persoalan di Besipae misalnya menjadi bukti, banyak rakyat NTT yang masih menderita dan tidak sedikit yang menangis. Sudah saatnya Frans Aba pimpin NTT,” ungkapnya.

Dan di Kota Bajawa, Kelurahan Jawameze, Kabupaten Ngada, Frans Aba pun diterima sebagai anak dan keluarga dalam ritus adat ‘Kago Mae’.

‘Kago Mae’ merupakan ungkapan syukur yang umumnya dibuat untuk seseorang yang selamat dari suatu kejadian dan agar tidak tertimpa hal-hal buruk atau jahat lainnya di kemudian hari.

Selain itu, ‘Kago Mae’ adalah ungkapan syukur bagi anggota keluarga yang sudah lama sekali tidak pulang dan dianggap tidak akan pulang selamanya ke kampung tetapi sesewaktu pulang. Sehingga Frans Aba dianggap sebagai anak, anggota keluarga yang sudah lama tidak pulang dan diterima kembali ke dalam rumah asal.

Penerimaan Frans Aba sebagai anak yang berlangsung di Rumah Gotong Royong Ngada, Jalan Wakomenge, Kompleks Puskesmas Kota, disaksikan sejumlah warga; para tetua adat setempat, ibu-ibu rumah tangga, kaum milenial dan para janda.

BACA JUGA:  PDIP NTT Siap Menangkan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024

Tokoh Masyarakat Baldus Keo mengungkapkan perasaannya. Dirinya dan keluarga sangat bahagia bisa bertemu Frans Aba calon Gubernur NTT.

“Kami bahagia bisa bertemu Pak Frans Aba. Beliau hadir langsung di rumah, bukan di ballroom hotel. Pak Frans hadir langsung sebagai pemimpin yang dekat sebagai keluarga semua masyarakat. Kami hadir ini tentu meninggalkan banyak tugas dan kesibukan. Itu semua demi Pak Frans Aba. Kami hadir berarti kami dukung,” ungkap Baldus Keo.

Dalam suasana akrab itu, Frans Aba menceritakan pengalaman hidup dan kerjanya. Salah satunya, bagaimana dirinya sebagai tokoh penting yang mengadvokasi korban Human Trafficking Nirmala Bonat, sampai kepada keprihatinannya terhadap peraturan daerah yang mengabaikan keberadaan UMKM.

“Waktu masih di Malaysia, saya pernah terlibat serius dalam usaha pembelaan bagi Nirmala Bonat. Kalau waktu itu saya tidak terlibat dan membantu Paul Liyanto, bisa-bisa dia dideportasi dan Nirmala Bonat tidak bisa kita selamatkan. Tapi nama saya memang tidak terpublish karena status saya sebagai mahasiswa cukup rentan. Dulu saya hampir tiap hari ke bandara hanya untuk melihat situasi, jangan sampai ada TKI kita yang butuh bantuan,” ungkap Frans Aba.

BACA JUGA:  Partai Demokrat Tolak Wacana Sistem Pemilu Proporsional Tertutup

Terkait UMKM lokal, Frans dengan tegas menyatakan keprihatinannya terhadap kehadiran beberapa pusat pembelanjaan seperti minimarket kapital yang makin menjamur.

“Kita harusnya menolak kehadiran minimarket seperti Indomaret atau Alfamart, dengan regulasi yang tepat dan jelas. Mereka ini kuasai bisnis mulai dari produksi, distribusi, sampai retail. Kalau makin banyak, ya mati usaha kios-kios masyarakat kita. Uang Kita dibawa keluar semua,” jelas Frans Aba.

Selain itu, Frans Aba menyentil soal maksimalisasi potensi sektor pertanian terutama terkait produksi kopi yang berkualitas. Bahwa pemerintah daerah harus mendukung penuh, bukan hanya dari tahap awal di kebun, tetapi harusnya sampai juga kepada membangun branding atau merek.

“Jangan sampai ada pengusaha di pusat, misalnya yang buat kedai kopi atau menjual kopi kemasan dengan nama Bajawa, tapi bisa saja bukan kopi dari bajawa, pemiliknya juga bukan dari bajawa, pekerja dan keuntungannya juga bukan untuk orang Bajawa. Bahaya ini,” ungkap Frans tegas.

Sebelum menutup pertemuan itu, seorang Ibu rumah tangga, Mama Maria Adelheid Moi megatakan, kehadiran Frans Aba di Bajawa seperti doa yang terkabul.

Kami ini perempuan yang hanya bisa bekerja dan berdoa. Kehadiran Pak Frans seperti doa yang terkabul. Kami akan terus doa biar bapa tetap hadir, apalagi hadir sebagai Gubernur kami,” ucap Maria.***

error: Content is protected !!