KUPANG, HN – Elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto kian moncer di sejumlah hasil survei bursa Pilpres 2024. Dukungan untuk Menteri Pertahanan RI Prabowo ini terus berdatangan.
Berdasarkan hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Jakarta (LSJ) beberapa waktu lalu menempatkan Prabowo Subianto di posisi puncak dengan raihan elektabilitas tertinggi, yakni 33,1 persen.
Sementara di posisi kedua ditempati Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo dengan raihan elektabilitas 22,6 persen, disusul Anies Baswedan 18,1 persen.
Di posisi papan tengah, muncul nama Ridwan Kamil 6,8 persen, disusul Agus Harimurty Yudhoyono 4,2 persen, Erick Thohir 3,4 persen, Moeldoko 3,2 persen, dan Sandiaga Uno 2,3 persen.
Sedangkan di papan bawah ada nama Puan Maharani 2,1 persen, Airlangga Hartarto 1,8 persen, dan Muhaimin Iskandar 0,9 persen. Sebanyak 1,5 persen responden belum punya pilihan.
Populasi dari survei ini adalah diambil dari 34 provinsi di Indonesia, yang warganya sudah memiliki hak pilih di Pemilu 2024, atau penduduk Indonesia yang minimal sudah berusia 17 tahun.
Elektabilitas Ganjar Pranowo diperkirakan akan terus mengalami penurunan, setelah mendapat banyak kecaman publik usai FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20.
Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan PDIP siap menerima apabila angka elektabilitasnya ‘terjun bebas’ atau menurun setelah penolakan timnas Israel di Indonesia.
“Bahwa itu mengandung suatu konsekuensi atas sikap kader PDIP, yaitu harus kami terima,” ujar Hasto dilansir dari tvOnenews.com, Jumat 31 Maret 2023.
Dia menjelaskan, soal elektabilitas sudah biasa PDIP mendapat angka yang berubah-ubah. Untuk itu, Hasto menegaskan PDIP tetap menolak kedatangan Israel.
“Dalam konteks dinamika elektoral itu kan naik dan turun. Adakalanya turun, adakalanya naik dan kita tentu saja berusaha membangun persepsi kepada rakyat,” katanya.
Di sisi lain, Hasto berujar pihaknya meyakini akan tetap menang di Pemilu 2024. Sebab, masyarakat tentu menginginkan calon pemimpin yang teguh pendirian. Baik anggota legislatif, presiden, maupun wakil presiden.
“Justru dengan kejadian ini rakyat akan melihat bahwa kader PDI Perjuangan kokoh berdiri pada sikapnya meskipun itu membawa konsekuensi terhadap elektoral,” ungkap Hasto.
Lebih lanjut, Hasto mengatakan, penolakan Ganjar dan kader PDIP lain itu atas dasar keyakinan ideologis. Bukan karena ingin meningkatkan elektoral. Penolakan itu disebabkan tindak kekerasan Israel kepada Palestina.
“Seluruh kader-kader PDI Perjuangan itu bersikap kokoh atas dasar keyakinan, bukan berdiri atas dasar elektoral yang seringkali dipermainkan oleh berbagai tarik-menarik kepentingan,” ujar Hasto.
“Pak Koster, Pak Ganjar, dan juga kader-kader PDI Perjuangan yang lain telah menunjukkan sikapnya yang kokoh secara ideologis dan itu muncul dari kesadaran terhadap sejarah, kesadaran terhadap apa yang terjadi di dunia internasional. Khususnya tindak kekerasan dari Israel,” pungkas Hasto.***

