KUPANG, HN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) menggelar acara Kemitraan untuk Pembelajaran ke-5 di NTT pada Senin, 9 Oktober 2023.
Acara ini berlangsung di Hotel Aston Kupang dengan tema “Merayakan Keberhasilan Kemitraan dalam Pendidikan di Bumi Flobamorata.”
Kegiatan ini bertujuan untuk menyajikan temuan kunci, pencapaian, dan pelajaran yang diperoleh dari program INOVASI di NTT dalam kerjasamanya dengan tujuh lembaga yang beroperasi di wilayah NTT.
Lembaga-lembaga tersebut meliputi CIS Timor, Sekolah Abdi Kasih Bangsa, STKIP Citra Bakti, Suluh Insan Lestari, Taman Bacaan Pelangi, Yayasan Literasi Anak Indonesia, dan Yayasan Sulinama.
Sejak fase pertama program INOVASI pada tahun 2016-2020 hingga fase kedua pada tahun 2020-2023, INOVASI dan mitra pembangunan telah menjalankan berbagai upaya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran siswa SD/MI kelas awal.
Hal itu dilakukan dengan memecahkan permasalahan pendidikan lokal dan mencari solusi yang sesuai dengan daerah setempat.
Upaya ini termasuk skema program hibah untuk mendukung tujuan program, yaitu meningkatkan literasi, numerasi, dan karakter siswa dengan penekanan pada kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan inklusi.
Sekretaris Daerah NTT, Kosmas Damianus Lana, menyoroti pentingnya persiapan tenaga monitoring dan evaluasi yang terampil untuk menyampaikan data perkembangan kepada pemerintah pusat.
Kosmas juga menekankan perlunya pembahasan bersama dan komitmen untuk menuntaskan master plan pendidikan di wilayah Nusa Tenggara Timur.
“Fokus saat ini adalah membangun pola kemitraan yang lebih baik dan mengembangkannya ke seluruh kabupaten dan kota di NTT,” ujar Kosams Lana.
Suhadi, Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) dari Kemendikbudristek, mengapresiasi peran Pemerintah Provinsi NTT dan berbagai pihak dalam mencari solusi lokal untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar di NTT.
“Kolaborasi ini jadi contoh bagaimana prinsip Merdeka Belajar dapat diimplementasikan dalam konteks daerah dengan tantangan unik, terutama selama pandemi COVID-19,” jelasnya.
Menurut Sahudi, hasil studi bersama Kemendikbud Ristek dan INOVASI selama tiga tahun menunjukkan kurikulum yang fleksibel mendorong pemulihan pembelajaran dua kali lebih cepat dibandingkan dengan kurikulum tahun 2013.
“Metode pembelajaran yang menekankan asesmen diagnostik, pembelajaran berdiferensiasi, dan penekanan pada literasi dan numerasi berkontribusi pada pemulihan pembelajaran,” ungkapnya.
Counsellor for Human Development, Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Hannah Derwent, menyambut baik keberhasilan ini sebagai hasil kerja keras dan kolaborasi lintas sektor.
Ia optimis bahwa kemajuan ini akan berlanjut dan mendorong kerja sama untuk pendidikan berkualitas bagi semua anak di NTT.
Acara Kemitraan untuk Pembelajaran ke-5 ini melibatkan perwakilan dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), Sekda NTT, serta Bupati/Wakil Bupati dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari 22 kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur.***

