ICRAF Libatkan NGO Lokal Jaga Keberlanjutan Land4Lives di NTT

KUPANG, HN – Program Land4Lives yang dijalankan International Center for Research in Agroforestry (ICRAF) di Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi memasuki tahap akhir. Meski program berakhir, berbagai praktik baik yang telah berjalan di masyarakat diharapkan tetap dilanjutkan.

Sekretaris Daerah (Sekda) NTT Fransiskus Sales Sodo mengatakan Land4Lives sudah memberikan kontribusi bagi pemerintah daerah dan masyarakat, terutama di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Program itu berjalan sejak tahun 2021 hingga tahun 2026 dengan fokus antara lain pemberdayaan masyarakat desa, ketahanan terhadap perubahan iklim, pertanian berkelanjutan hingga peningkatan ekonomi masyarakat.

“Pertama itu terkait dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat, bagaimana membangun komunitas masyarakat desa yang memahami soal perubahan iklim, kemudian bisa membangun ketahanan iklim, kemudian praktik-praktik bertani yang berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” ujar Frans Kamis 17 September 2026.

Menurut Frans, salah satu kegiatan yang dinilai memberi manfaat adalah sekolah lapang bagi perempuan. Kegiatan itu, kata dia, menjadi wadah edukasi bagi masyarakat sekaligus mendorong perempuan lebih aktif dalam pengelolaan lingkungan dan penghidupan keluarga.

Dia menyebut, program Land4Lives juga mendorong masyarakat meningkatkan pendapatan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lahan dan daerah aliran sungai (DAS).

“Bagaimana meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan tetapi tetap menjaga landscape tanah yang berkelanjutan, kemudian DAS yang berkelanjutan dan lain sebagainya,” jelasnya.

Frans mengatakan kontribusi Land4Lives tidak berhenti pada pendampingan masyarakat di tingkat desa. Sejumlah praktik baik dari program itu juga telah diintegrasikan ke dalam sistem perencanaan pembangunan pemerintah daerah.

BACA JUGA:  DPRD Minta Gubernur Kaltim Hargai Proses Penetapan NTT dan NTB Tuan Rumah PON 2028

Di tingkat Provinsi NTT, salah satu hasil yang telah diterima pemerintah adalah dokumen master plan ekonomi hijau.

Sementara di Kabupaten TTS, hasil program Land4Lives telah diintegrasikan dalam program, kegiatan dan subkegiatan pemerintah daerah, termasuk dalam penyusunan RPJMD.

“Program ini juga membantu pemerintah daerah dan mengintegrasikan praktik baik ini dengan sistem perencanaan pembangunan daerah, baik itu di Kabupaten TTS maupun di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ungkapnya.

Karena itu, Frans berharap berakhirnya program Land4Lives tidak berarti berhentinya praktik yang sudah dilakukan masyarakat.

Pemerintah desa, kabupaten hingga provinsi diharapkan mengambil peran untuk memastikan berbagai hasil pendampingan tetap berjalan.

“Kita berharap program ini tidak berakhir ketika sudah close, tetapi secara berkelanjutan, baik itu pemerintah desa, pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi berkomitmen untuk tetap terus melanjutkan praktik baik yang sudah dirasakan oleh masyarakat,” pungkasnya.

ICRAF menyiapkan strategi keluar atau exit strategy agar hasil program tetap berjalan setelah pendampingan berakhir.

Andree Ekadinata dari ICRAF menyebut mereka akan melibatkan sejumlah lembaga lokal untuk membantu masyarakat selama masa transisi.

“Ada beberapa NGO lokal yang juga membantu masyarakat dalam periode transisi supaya program ini masih tetap berlanjut,” ujar Andree.

“Kami libatkan NGO lokal, ada Yayasan Krisna dan IMPM yang sudah bersama-sama kami mengembangkan aktivitas di tingkat petani sehingga mudah-mudahan nantinya mereka juga bisa melakukan hal yang sama walaupun project ini berakhir,” tambah Andree.

BACA JUGA:  Anak-anak Panti Asuhan Adimister Duli Ona Luluhkan Hati Frans Aba

Menurut Andree, strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan hasil Land4Lives tidak berhenti setelah proyek selesai.

Andree mengatakan ICRAF mengapresiasi kerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTT yang telah terjalin sejak 2021.

Menurutnya, Land4Lives diarahkan untuk membangun ketangguhan masyarakat menghadapi perubahan iklim sekaligus memperkuat penghidupan mereka.

“Tangguh iklim artinya masyarakat Nusa Tenggara Timur mampu untuk bisa bertahan di tengah ancaman perubahan iklim dan juga terus mengembangkan penghidupannya,” jelasnya.

Selama lima tahun pelaksanaan, khususnya di Kabupaten TTS, ICRAF berharap pengalaman dari Land4Lives dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain di NTT.

“Kami berharap mudah-mudahan bisa menjadi contoh dan juga menjadi masukan untuk direplikasi di kabupaten-kabupaten lain oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten,” terangnya.

Selain gandeng NGO lokal, ICRAF juga melibatkan perguruan tinggi dalam pengembangan program. Salah satunya melalui konferensi Simpul Pangan Nusantara yang mempertemukan berbagai hasil penelitian mengenai ketahanan pangan daerah dari peneliti di NTT.

Keberlanjutan program juga didorong melalui jalur pendidikan formal. ICRAF bersama mitra mengembangkan kurikulum pendidikan mengenai pangan lokal.

Program itu diharapkan jadi bagian dari pembelajaran bagi generasi mendatang. “Ini adalah yang pertama kali di Indonesia dan dibangun di Nusa Tenggara Timur,” ungkap Andree.

BACA JUGA:  Gelapkan Sepeda Motor Milik Dinas Kehutanan NTT, Pria di Kupang Ditangkap Polisi

Untuk saat ini, ICRAF masih memprioritaskan penyelesaian exit strategy sebelum menentukan bentuk lanjutan program Land4Lives di NTT.

“Untuk rencana melanjutkan program ini, kami saat ini berfokus untuk memastikan exit strateginya dulu berjalan supaya semuanya bisa rampung dan bisa bermanfaat secara berkelanjutan. Setelah itu baru kami akan memikirkan bagaimana keberlanjutan program ini di NTT,” tandasnya.

Perwakilan Global Affairs Canada, Alice Birnbaum mendukungan terhadap pelaksanaan Land4Lives di Indonesia, termasuk di NTT.

Menurutnya, program itu merupakan kolaborasi antara pemerintah Kanada dan Indonesia dalam sejumlah isu yang menjadi perhatian bersama, seperti ketangguhan iklim, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

Dia mengatakan telah melihat langsung sejumlah perubahan yang terjadi di tingkat masyarakat, termasuk peningkatan hasil pertanian dan keterlibatan perempuan dalam kehidupan sosial.

“Saya sudah melihat secara langsung, banyak petani sudah meningkatkan hasil pertanian mereka. Selain itu melihat banyak perempuan jadi lebih aktif lagi berperan dalam masyarakat, terutama untuk masalah iklim ke lingkungan mereka,” ungkapnya.

Alice juga mengapresiasi kerja sama ICRAF dengan pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk memastikan praktik baik Land4Lives tetap diterapkan setelah proyek berakhir.

“Proyek ini bekerja sangat erat dengan pemerintah lokal, pemerintah daerah dan provinsi untuk memastikan bahwa walaupun proyek Land4Lives sudah berakhir, tetapi tetap berlanjut, tetap dilakukan praktik baiknya,” pungkas Alice.***

error: Content is protected !!