KUPANG, HN – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bergerak cepat membantu korban gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa obat-obatan dan kebutuhan dasar, tetapi juga pengerahan dokter spesialis hingga tim medis ke sejumlah wilayah terdampak.
Ketua IDI Nusa Tenggara Timur, dr Stefanus Soka, SpB, MKM, mengatakan langkah itu dilakukan sejak hari pertama gempa. IDI NTT langsung menggelar rapat koordinasi dengan berbagai perhimpunan dokter untuk menentukan respons medis yang paling dibutuhkan di lokasi bencana.
“Pada saat terjadi gempa tanggal 15 Agustus, kami langsung melakukan rapat koordinasi tanggal 15 sore dengan anggota IDI maupun perhimpunan dokter, baik dokter bedah, dokter anestesi, dokter saraf, penyakit dalam, dokter mata dan juga bedah tulang,” ujar Stefanus, Jumat 11 September 2026.
Menurut dia, kebutuhan paling mendesak pada fase awal bencana adalah penanganan pasien. Karena itu, IDI NTT memutuskan segera mengirim dokter spesialis ke wilayah terdampak.
Sebanyak lima dokter ahli ditugaskan pada tahap awal. Mereka terdiri atas satu dokter spesialis bedah tulang, dua dokter spesialis bedah umum, satu dokter spesialis emergency, dan satu dokter spesialis anestesi.
“Karena dalam kondisi bencana dan trauma seperti itu, pasti kasus-kasus trauma banyak. Sehingga kita harus segera mungkin membackup untuk pelayanan medis itu,” jelasnya.
Stefanus mengatakan distribusi tenaga medis sempat terkendala transportasi menuju wilayah terdampak. Namun, IDI NTT mendapat dukungan berbagai pihak sehingga dokter dapat diberangkatkan secara bertahap. Dua dokter berangkat lebih dahulu menuju Maumere dan malam harinya langsung bergerak ke Borong.
“Dalam 24 jam kami IDI di wilayah NTT sudah berada di lokasi untuk memberikan pertolongan kasus-kasus trauma,” ungkapnya.
Sehari kemudian, dokter spesialis emergency menyusul. Sementara satu dokter bedah diarahkan ke Ruteng dan dokter spesialis bedah tulang diberangkatkan menggunakan kapal laut menuju Ende.
Dengan dukungan Puskris, Pemerintah Provinsi NTT, dan Dinas Kesehatan, IDI NTT menyebut pengerahan dokter spesialis dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gempa.
Selain tenaga medis, IDI NTT juga menggalang bantuan untuk memenuhi kebutuhan warga. Posko bantuan kemudian dibuka di Ruteng dan Nagekeo.
Posko dibuat untuk memastikan bantuan yang dikumpulkan tidak berhenti di tahap pengadaan, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Bantuan itu bukan hanya bagaimana menyediakan bantuan, tetapi bagaimana mendistribusikan. Sehingga kami memang membuat posko di wilayah Ruteng dan Nagekeo,” ujar Stefanus.
Bantuan yang disalurkan antara lain obat-obatan, selimut, terpal, sembako, beras, susu bayi hingga genset. Distribusi dilakukan bersama IDI cabang di daerah terdampak, relawan dan Dinas Kesehatan setempat.
Memasuki pekan kedua pascagempa, IDI NTT kembali mengirim tim medis tambahan setelah melihat adanya kelelahan pada tenaga kesehatan yang telah bertugas di lokasi bencana. Sebanyak 20 personel diturunkan ke Nagekeo. Mereka terdiri dari 10 dokter dan 10 perawat.
“Kita tahu bahwa terjadi kesulitan, kelelahan petugas medis di daerah dampak bencana. Maka kita mengirimkan tim 20 orang,” jelas Stefanus.
Tim itu dikerahkan melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
IDI juga menjangkau warga di Pulau Palue yang sempat terisolasi. Melalui IDI Cabang Maumere, tenaga medis menembus wilayah itu menggunakan kapal untuk memberikan bantuan kepada warga.
Sementara di Ende, dokter spesialis bedah tulang diperkuat untuk menangani kasus yang membutuhkan keahlian tersebut. “Nagekeo yang membutuhkan banyak dokter umum, sehingga lebih banyak dokter umumnya ke sana. Kalau di Manggarai dokter umumnya kita di Reo,” jelasnya.
IDI juga mendapat dukungan dari apotek dan penyedia sembako di daerah terdampak. Para pemasok tetap memberikan harga normal meski berada dalam situasi bencana.
“Mereka memberi harga sama seperti harga di Kupang. Pada saat itu memang agak kesulitan. Tapi karena mungkin atas dasar kepedulian, kita membeli itu dengan harga standar,” katanya.
Memasuki pekan keempat penanganan bencana, IDI NTT mulai menggeser perhatian dari respon medis akut menuju pemulihan psikologis masyarakat.
IDI NTT menggandeng Kwartir Daerah Pramuka dan RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang untuk menyiapkan program trauma healing bagi korban gempa.
Program itu melibatkan dokter jiwa dan psikolog. Namun, karena jumlah tenaga profesional terbatas sementara kebutuhan di lapangan sangat luas, Pramuka dilibatkan untuk memperluas jangkauan kegiatan.
“Kita kerja sama dengan Pramuka karena untuk proses kegiatan trauma healing ini teman-teman dokter jiwa ataupun teman-teman psikolog terbatas, sementara posko begini banyak,” kata Stefanus.
Pelatihan bagi anggota Pramuka di wilayah terdampak telah dilakukan pada 9 September 2026. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang bersama perhimpunan dokter jiwa.
Para anggota Pramuka dibekali konsep dasar trauma healing yang nantinya diterapkan melalui kegiatan rekreatif dan pendampingan masyarakat.
IDI menargetkan kegiatan trauma healing mulai berjalan paling lambat 12 September. “Harapannya kegiatan trauma healing ini bisa secara serempak, jangkauannya lebih banyak dan lebih luas,” ujarnya.
Tenaga dokter dan tenaga kesehatan IDI jug disebar ke sejumlah wilayah terdampak. Namun, konsentrasi lebih besar diarahkan ke daerah yang mengalami dampak cukup berat, terutama Nagekeo dan Manggarai.
Stefanus mengatakan seluruh rangkaian kegiatan itu merupakan bentuk tanggung jawab IDI NTT dalam memastikan bantuan yang diterima dari para donatur benar-benar diterjemahkan menjadi aksi di lapangan.
“Kami harus melakukan sesuatu dulu baru menginformasikan. Ini juga sebagai bentuk penghargaan dan transparansi kepada pihak-pihak yang membantu di wilayah NTT,” pungkasnya.
Koordinator Penanganan Bencana Gempa Flores sekaligus Seksi Pengabdian Masyarakat IDI Wilayah NTT, dr Imelda Ora, M.Biomed, Sp.N, mengatakan nilai total bantuan yang dihimpun belum dapat dihitung secara pasti.
Sebab, kata dia, sebagian besar bantuan tidak diberikan dalam bentuk uang, tetapi obat-obatan, alat kesehatan, sembako dan berbagai kebutuhan lainnya.
“Untuk total donasi ini kita untuk real keuangannya masih belum tahu, karena bantuan ini bentuk obat-obatan atau dalam bentuk barang, bukan uang. Kalau ditotal-total cukup banyak sebenarnya, bahkan bisa hampir Rp1 miliar,” ujar Imelda.
Menurut dia, salah satu bantuan bernilai besar datang dari Perhimpunan Bedah Saraf. Bantuan itu mencapai sekitar Rp250 juta dalam bentuk bor dan alat operasi.
Nilai itu belum termasuk bantuan obat-obatan yang dinilai menjadi salah satu komponen dengan nilai terbesar.
Imelda menjelaskan IDI NTT menyusun kebutuhan bantuan berdasarkan permintaan dari IDI cabang di wilayah terdampak. Setidaknya tujuh cabang IDI menjadi bagian dari koordinasi, yakni Manggarai, Labuan Bajo, Borong, Nagekeo, Bajawa, Maumere dan Ende.
“Kita tanya, kamu butuh apa? Kemudian mereka menginformasikan ke kami jumlah barang-barang yang mereka butuh dan jenisnya,” jelas Imelda.
Untuk obat-obatan, IDI NTT bekerja sama dengan Yayasan Kita Bisa. Bantuan diberikan berdasarkan daftar kebutuhan yang telah disusun.
Obat kemudian dibeli melalui apotek di daerah masing-masing. Jika obat yang dibutuhkan tidak tersedia, pengadaan dilakukan melalui Apotek Kristal di Kupang sebelum dikirim ke wilayah terdampak. Bantuan sembako juga diberikan dalam bentuk barang, bukan uang.
Menurut Imelda, pengiriman bantuan ke Flores telah dilakukan hingga delapan kali dengan dujkungan transportasi dari berbagai pihak, termasuk Waseng dan BNPB. Solidaritas juga datang dari organisasi profesi dokter di berbagai daerah.
Pengurus Besar IDI memberikan dukungan anggaran. Bantuan juga datang dari IDI Jawa Timur, IDI Bali, IDI Lombok hingga IDI Aceh Tamiang.
Imelda mengaku tersentuh dengan bantuan dari IDI Aceh Tamiang karena daerah tersebut juga baru mengalami bencana banjir.
“Mereka memberikan bantuan kepada kita sebagai bentuk kebersamaan dan kepedulian terhadap masyarakat di NTT,” katanya.
Selain organisasi IDI, sejumlah perhimpunan dokter juga ikut memberikan dukungan, termasuk perhimpunan dokter mata, dokter saraf dan bedah saraf.
Yayasan Kita Bisa turut mendukung kebutuhan masyarakat dengan mekanisme berbasis kebutuhan. Bantuan diberikan sesuai barang yang diminta, mulai dari obat-obatan hingga sembako.
Turut hadir Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dr Syeben Hietingwati, MSi Med, SpPA.***

