Hukrim  

Melki Desak Aparat Tangkap Pelaku Penembakan 2 Anak NTT di Papua

Melki Laka Lena (Foto: RMOL)

KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengecam keras aksi penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap tiga pegawai Dinas Pertanian di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Dua diantaranya merupakan anak NTT.

Melki Laka Lena mendesak aparat penegak hukum tidak membiarkan kasus tersebut berlalu begitu saja. Pelaku harus segera diburu, ditangkap, dan diproses secara hukum.

“Perbuatan itu sangat melukai kemanusiaan kita dan melukai kebangsaan dan kebersamaan kita sebagai satu bangsa Indonesia,” ujar Melki kepada wartawan di Kupang, Kamis 10 September 2026.

Penembakan terjadi pada Rabu (9/9/2026) sore ketika rombongan pegawai Dinas Pertanian dalam perjalanan kembali ke Wamena.

Rombongan sebelumnya meninjau lokasi cetak sawah sekaligus menyalurkan bibit babi di Kampung Kimbim. Dalam perjalanan, mereka diserang kelompok bersenjata. Tiga pegawai dilaporkan menjadi korban dalam serangan tersebut.

Dua korban merupakan warga asal NTT, yakni Alfonsius Albinus Mehan (35), asal Maumere, dan Wili Mbuik (24), asal Rote Ndao/Kupang.

Alfonsius meninggal dunia di lokasi kejadian setelah mengalami luka tembak di bagian belakang kepala dan tangan kiri.

BACA JUGA:  Umbu Rudi Kabunang, Jembatan Aspirasi Masyarakat Sumba Raya di Senayan

Sementara Wili mengalami luka tembak pada pinggang kanan. Ia sempat mendapatkan perawatan di RSUD Wamena, tetapi nyawanya tidak tertolong.

Korban lainnya adalah Aprida Rapi (49), Kepala Bidang Peternakan asal Toraja, Sulawesi Selatan. Ia juga meninggal dunia di lokasi kejadian.

Melki menegaskan tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan penembakan terhadap para pegawai yang sedang menjalankan tugas. Terlebih, para korban sedang menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat di Papua.

“Apapun yang menjadi dasar alasan KKB melakukan hal demikian itu tidak bisa dibenarkan,” tegas Melki Laka Lena.

Menurut dia, para korban bukan datang untuk melakukan kekerasan. Mereka justru sedang membantu masyarakat Papua mendapat haknya melalui program pemerintah.

“Anak-anak kita ini lagi menjalankan tugas kemanusiaan membantu warga Papua untuk mendapat salah satu haknya yang diberikan negara melalui anak-anak kita ini,” jelasnya.

Karena itu, Melki meminta aparat segera menangkap para pelaku dan diproses hukum. “Kami minta aparat penegak hukum untuk mengejar, menangkap dan memproses hukum orang-orang ini,” tegasnya.

Melki meminta kasus penembakan tersebut menjadi momentum untuk menghentikan kekerasan terhadap warga sipil maupun aparat yang menjalankan tugas pelayanan publik di Papua. Menurut dia, tragedi seperti ini tidak boleh terus berulang.

BACA JUGA:  Golkar Tetap Kondusif Usai Airlangga Mundur, Melki Pastikan Tak Ada Dampak di Pilkada 2024

“Ini jangan dibiarkan terus menerus terjadi di tanah Papua. Harus dicarikan cara agar kasus-kasus seperti ini jangan lagi terjadi,” tegasnya.

Dia menilai negara harus memastikan setiap anak bangsa yang bertugas di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi tetap mendapatkan perlindungan dan rasa aman. Terlebih, para korban datang untuk bekerja dan mengabdi kepada masyarakat.

Melki mengatakan jenazah korban asal NTT dijadwalkan tiba di Kupang Jumat 11 September 2026. Pemerintah Provinsi NTT akan menjemput dan memberikan pendampingan kepada keluarga korban.

“Saya mewakili Pemerintah Provinsi NTT menyampaikan duka bagi keluarga korban, dimana anak mereka sudah gugur dalam menjalankan tugas kemanusiaan, negara dan bangsa di tanah Papua,” jelasnya.

Dia berharap tragedi itu menjadi pelajaran bagi seluruh anak bangsa untuk memperkuat solidaritas dan memastikan mereka yang menjalankan tugas kemanusiaan mendapat perlindungan.

Melki secara khusus menyebut Alfonsius Mehan dan Wili Mbuik sebagai dua anak muda yang memilih mengabdi di wilayah yang tidak mudah.

BACA JUGA:  Fransisco Bessi Sindir Natalia Rusli: Baca Berita Jangan Cuma Judul

“Sebagai anak muda saya berharap agar kita semua juga belajar dari dua anak muda yang luar biasa dan hebat ini, Wili Mbuik dan juga dr hewan Alfonsius Mehan,” ujarnya.

Menurut Melki, keduanya tetap memilih bekerja di Jayawijaya meski wilayah tersebut masih menghadapi persoalan keamanan.

“Dua anak muda ini bekerja dengan baik di tempat yang tidak mudah, di daerah Jayawijaya, daerah yang memang masih terjadi kasus-kasus kekerasan, tetapi mereka mau mengabdi di daerah itu,” katanya.

Melki menegaskan pengabdian seperti itu semestinya mendapat penghormatan, bukan justru berujung pada kematian.

Ia juga mengaitkan tragedi tersebut dengan solidaritas masyarakat Indonesia terhadap NTT yang saat ini sedang menghadapi bencana gempa Flores.

“Seperti kami yang sedang mengurus gempa Flores ini sangat terbantu karena semua anak bangsa membantu kita,” ungkapnya.

Karena itu, ia menegaskan prinsip yang sama harus berlaku bagi anak-anak bangsa yang bekerja di Papua.

“Anak-anak kita yang membantu orang Papua harusnya diberikan juga kenyamanan, hidup yang baik, tidak diintimidasi, diteror apalagi dibunuh karena mereka lagi menjalankan tugas kemanusiaan,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!