Melki Minta Bank Relaksasi Kredit untuk Pelaku Usaha Korban Gempa Flores

KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena meminta perbankan untuk memberikan relaksasi atau penyesuaian kewajiban kredit bagi masyarakat dan pelaku usaha yang terdampak gempa bumi di Flores.

Permintaan itu disampaikan Melki dalam Rapat Koordinasi Pembahasan Perekonomian Daerah ke-VII yang dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Strategi Pemulihan Ekonomi Pascagempa Flores di Hotel Harper Kupang, Jumat 4 September 2026.

Melki menyebut gempa tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak terhadap tekanan aktivitas ekonomi masyarakat.

“Gempa Flores tidak hanya meninggalkan duka mendalam dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan guncangan nyata pada stabilitas ekonomi kita,” ujar Melki.

Menurutnya, Flores adalah salah satu penggerak utama perekonomian NTT. Gangguan jalur logistik, kerusakan lahan pertanian, serta terganggunya aktivitas pasar berpotensi mempengaruhi rantai pasok dan perekonomian daerah.

BACA JUGA:  APH Diminta Tangkap dan Tindak Akun Penyebar Hoaks di NTT

Melki menilai pemulihan ekonomi korban gempa tidak cukup hanya melalui bantuan kebutuhan dasar. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat dan pelaku usaha memiliki ruang untuk kembali menjalankan aktivitas ekonominya.

Karena itu, ia mendorong adanya koordinasi dengan lembaga keuangan untuk memberikan relaksasi atau penyesuaian kewajiban kredit bagi debitur yang terdampak bencana. Selain relaksasi kredit, Melki meminta pendataan kerusakan aset UMKM, pasar tradisional dan sektor informal dilakukan secara menyeluruh.

“Akses terhadap modal dengan skema yang lebih ringan juga perlu menjadi perhatian, termasuk dukungan peralatan kerja bagi petani, nelayan dan pelaku usaha kecil,” jelasnya.

Melki menyebut terdapat dua tantangan besar yang harus diantisipasi setelah gempa Flores, yakni potensi peningkatan inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA:  NTT Siap Bantuan Rp1,5 Miliar untuk Korban Banjir Bandang di Sumatera

Inflasi NTT pada Agustus 2026 tercatat 2,59 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dari Juli yang berada di angka 2,43 persen.

Gangguan distribusi akibat bencana dinilai berpotensi meningkatkan harga apabila pasokan kebutuhan masyarakat tidak segera dipulihkan.

Di sisi lain, ekonomi NTT triwulan II 2026 tumbuh 5,01 persen secara tahunan. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 29,40 persen. Gempa Flores dikhawatirkan memberikan tekanan terhadap sektor-sektor produktif tersebut.

“Apabila proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan sesuai harapan, target pertumbuhan ekonomi NTT pada kisaran 4,9 hingga 5,1 persen masih dapat dijaga,” ungkapnya.

Pada tahap rehabilitasi, Melki menekankan pentingnya menghidupkan kembali UMKM dan ekonomi rakyat. Menurutnya, pemerintah bersama perbankan dan pemangku kepentingan lainnya perlu menyiapkan pendampingan usaha, pelatihan pengelolaan keuangan, pemasaran digital serta akses permodalan dengan skema yang lebih ringan.

BACA JUGA:  Pria di Kupang Diterkam Buaya Saat Panah Ikan di Pantai Salupu

Dukungan juga diperlukan bagi petani, nelayan dan pelaku usaha kecil yang kehilangan atau mengalami kerusakan peralatan kerja akibat gempa.

Melki berharap pemulihan pascagempa tidak sekadar mengembalikan kondisi ekonomi seperti sebelum bencana, tetapi juga membangun sistem ekonomi NTT yang lebih tangguh menghadapi risiko bencana.

“Kita harus mampu mengubah tantangan bencana ini menjadi momentum untuk membangun sistem ekonomi NTT yang lebih tangguh dan resilien terhadap ancaman bencana di masa depan,” ujarnya.

Ia meminta seluruh pihak, mulai dari pemerintah, perbankan, dunia usaha, akademisi hingga pemerintah kabupaten, menghasilkan kebijakan yang konkret dan dapat segera diterapkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat terdampak gempa.***

error: Content is protected !!