IMI NTT Edukasi Pelajar hingga Ojol soal Bahaya Miras Saat Berkendara

KUPANG, HN – Ikatan Motor Indonesia (IMI) Nusa Tenggara Timur mengingatkan pengendara untuk tidak mengambil risiko setelah mengonsumsi minuman beralkohol. Pesan itu disampaikan dalam Kampanye Keselamatan Auto Sobriety bertajuk Gerakan Tidak Mengemudi saat dalam Pengaruh Alkohol di Hotel Sasando Kupang, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Kampanye itu menyasar kelompok yang sehari-hari bersentuhan dengan lalu lintas, mulai dari mahasiswa atau pelajar, pengemudi ojek online (ojol), komunitas motor hingga masyarakat umum. Sekitar 300 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Sekretaris IMI NTT, Sokan Teibang, menyebut kampanye keselamatan itu menjadi salah satu agenda utama IMI, namun baru baru direalisasikan tahun ini.

“Kegiatan ini jadi agenda utama IMI. Harusnya kita jalankan di periode lalu, tetapi baru dijalankan di periode ini,” ujar Sokan.

Sokan mengatakan persoalan alkohol menjadi tantangan tersendiri dalam upaya meningkatkan keselamatan lalu lintas di NTT.

Dia menyebut tiga negara di Asia, tingkat kecelakaan tertinggi karena alkohol, yakni negara Malaysia, Vietnam, Filipina dan Indonesia. Tiga provinsi di Indonesia juga disebut memiliki tingkat kecelakaan tinggi karena konsumsi minuman beralkohol, yakni NTT, Maluku dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Di Indonesia itu ada tiga provinsi yang tercatat kecelakaan lalu lintas terbanyak tertinggi itu akibat mengonsumsi minuman beralkohol. Pertama di Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Nusa Tenggara Barat,” jelasnya.

BACA JUGA:  Jhon Tuba Helan Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Tangani Kasus TPPO di NTT

Menurut Sokan, persoalan itu perlu mendapat perhatian karena alkohol telah menjadi bagian dari kebiasaan sosial di sejumlah lingkungan masyarakat, terutama di Nusa Tenggara Timur.

“Saya dalam beberapa kesempatan koordinasi dengan teman-teman IMI di Jakarta selalu saya sampaikan bahwa persoalan alkohol ini menjadi satu kebiasaan yang agak sulit untuk kita pisahkan dari kebiasaan-kebiasaan kami,” ungkapnya.

Nusa Tenggara Timur, kata dia, disebut sebagai salah satu daerah dengan persoalan kecelakaan tertinggi yang berkaitan dengan alkohol. “NTT hari ini dalam data kita tercatat paling banyak celaka karena alkohol,” jelas Sokan.

Sokan menyebut kampanye tersebut tidak dimaksudkan sekadar memberikan larangan, tetapi membangun kesadaran pribadi setiap pengendara.

Menurutnya, keselamatan di jalan sangat bergantung pada keputusan seseorang sebelum menyalakan kendaraan.

“Kegiatan ini untuk memberikan kesadaran. Jadi kalau berkendara jangan mabuk, dan kalau mabuk jangan berkendara,” tegasnya.

Persoalan keselamatan lalu lintas bukan hanya berkaitan dengan kondisi kendaraan maupun kelengkapan administrasi pengendara. Kesadaran pribadi juga jadi faktor yang sangat penting.

“Selain alkohol, ternyata kesadaran secara pribadi sangat terbatas soal bahaya alkohol,” ungkap Sokan.

BACA JUGA:  Warga Sikumana Sulap Jalan Tanah Jadi Rabat Beton

Dia juga menyebut masih ada pengendara yang memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM), namun tetap berkendara secara agresif dan berisiko.

“Kawan-kawan yang berkendara ini kadang brutal, tetapi punya SIM. Itu yang kemudian menyebabkan banyak kecelakaan di jalan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) NTT, Alfons Theodorus, turut mendukung kampanye yang digelar IMI NTT.

Alfons menilai kecelakaan lalu lintas yang berkaitan dengan kondisi mabuk harus menjadi perhatian bersama. Ia meminta masyarakat tidak memaksakan diri mengemudi setelah mengkonsumsi minuman beralkohol.

“Kecelakaan kita banyak akibat mabuk. Mabuk itu jangan berkendara. Tidur saja di rumah. Karena itu sangat berisiko,” ujar Alfons.

Dia mengapresiasi IMI NTT yang menjadikan edukasi keselamatan sebagai bagian dari agenda organisasi. “Terima kasih IMI karena mau melakukan kegiatan ini. Data menunjukkan NTT, Maluku dan NTB jadi provinsi dengan tingkat kecelakaan paling tinggi karena mabuk,” ujarnya.

Menurut Alfons, edukasi semacam itu merupakan salah satu langkah preventif untuk menekan kecelakaan lalu lintas.

Alfons menegaskan kampanye itu bukan berarti melarang warga mengonsumsi minuman beralkohol. Persoalan utamanya adalah keputusan untuk tetap mengemudi ketika kondisi tubuh sudah dipengaruhi alkohol. “Kita tidak larang minum. Kita tidak ingin mabuknya ini yang kita tidak mau,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Wali Kota: Praja IPDN Harus Kreatif dan Inovatif

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kecelakaan terjadi baru menyadari pentingnya keselamatan. “Kita tidak ingin keselamatan itu baru kita sadar setelah terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Karena itu, menurut Alfons, pemeriksaan sebelum berkendara harus dilakukan secara menyeluruh. Pengendara bukan hanya perlu memastikan kendaraan dalam kondisi layak, tetapi juga memastikan dirinya berada dalam kondisi sadar dan aman untuk mengemudi.

“Sehingga tentu saja sebelum berkendara pastikan kendaraan dalam keadaan baik, juga pastikan diri kita tidak sedang mengkonsumsi alkohol. Karena itu, jika kita sudah konsumsi miras, jangan berkendara,” jelasnya.

Alfons berharap kampanye keselamatan tidak berhenti pada satu kegiatan. Menurut dia, edukasi mengenai bahaya berkendara dalam kondisi mabuk perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai organisasi.

“Saya berharap semua kegiatan ini terus dilakukan. Bukan saja IMI, tetapi organisasi lainnya,” terang Alfons.

Dia berharap gerakan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga angka kecelakaan akibat pengaruh alkohol dapat ditekan.

“Sehingga kita tidak masuk dalam tiga besar daerah dengan tingkat kecelakaan tertinggi di Indonesia karena mabuk,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!