KUPANG, HN – Perputaran ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur selama Ramadan hingga menjelang Idul Fitri 2026 meningkat signifikan. Momen itu dinilai jadi peluang untuk memperkuat ekonomi rakyat, terutama melalui pemberdayaan UMKM dan pengembangan ekonomi syariah.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena mengatakan itu saat menghadiri Road to Festival Ekonomi Syariah (FESyar) serta penutupan program Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026 di kantor BI NTT, Jumat 13 Maret 2026.
“Kami mengapresiasi BI yang terus menginisiasi berbagai program untuk memudahkan masyarakat, terutama memenuhi kebutuhan uang tunai selama Ramadan hingga menjelang Lebaran,” ujar Melki.
Menurutnya, kebutuhan uang tunai masyarakat meningkat menjelang Idul Fitri, terutama pecahan kecil seperti Rp50.000 dan Rp100.000 yang banyak digunakan untuk berbagai transaksi serta tradisi berbagi uang baru kepada keluarga.
Dia menilai layanan penukaran uang yang disediakan BI bersama perbankan sangat membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Melki menyebut tren pertumbuhan ekonomi NTT terus menunjukkan kinerja positif. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi daerah mencapai sekitar 5,8 persen, dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp158,37 triliun.
“Kita bersyukur karena pertumbuhan ekonomi NTT berada di angka 5,8 persen, termasuk yang tinggi di Indonesia. Nilai PDRB kita sudah mencapai Rp158,37 triliun dan akan terus meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, momen hari besar keagamaan seperti Ramadan dan Idul Fitri sering menjadi faktor yang mendorong peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Salah satu contoh terlihat dari maraknya penjualan takjil di Kota Kupang selama Ramadan. Berdasarkan perkiraan perbankan, transaksi penjualan takjil di salah satu titik keramaian diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar hingga akhir Ramadan.
“Ini baru dari satu titik. Belum lagi di kawasan Air Mata dan lokasi lainnya di Kota Kupang. Artinya ekonomi rakyat benar-benar bergerak,” pungkasnya.
Kepala Perwakilan BI NTT Adidoyo Prakoso mengatakan program SERAMBI 2026 merupakan rangkaian kegiatan Bank Indonesia selama Ramadan untuk memastikan kebutuhan uang tunai masyarakat terpenuhi sekaligus mendorong pengembangan ekonomi syariah di daerah.
BI NTT menyiapkan uang kartal sebesar Rp1,7 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri 2026.
“Hingga 12 Maret 2026, uang kartal yang telah dikeluarkan melalui penarikan perbankan maupun layanan penukaran mencapai sekitar Rp514 miliar,” kata Adidoyo.
Selain itu, BI membuka layanan penukaran uang di sejumlah lokasi di Kota Kupang, seperti lima masjid, area parkir pusat perbelanjaan, kawasan pesisir, hingga layanan perbankan di bandara.
Dari layanan tersebut tercatat 8.431 orang.telah memanfaatkan fasilitas penukaran uang dengan total nilai sekitar Rp48,6 miliar.
Untuk menjaga kelancaran transaksi selama libur Lebaran, BI bersama perbankan juga memastikan pengisian mesin ATM tetap berjalan dengan estimasi kebutuhan sekitar Rp305 miliar.
Selain layanan uang tunai, BI NTT juga menjalankan berbagai program penguatan ekonomi syariah. Salah satunya memfasilitasi sertifikasi halal bagi 15 pelaku UMKM bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UMKM serta Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTT.
Beberapa pelaku usaha bahkan telah memasok produknya ke jaringan ritel lokal NTT Mart untuk memperluas pasar.
BI juga menggelar bazar Ramadan yang melibatkan sekitar 60 UMKM, serta kegiatan Kupang Lampion Street Food Market yang menghadirkan berbagai pelaku usaha kuliner.
Ketua MUI NTT Muhammad Wongso menilai kolaborasi Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi langkah cerdas untuk memperkuat pembangunan ekonomi daerah.
“Kami melihat bagaimana Bank Indonesia berupaya mendekatkan perbankan dengan masyarakat. Yang jauh didekatkan, yang dekat semakin diperkuat,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi pemerintah, lembaga keuangan, dan tokoh agama perlu terus dijaga agar pembangunan ekonomi di NTT berjalan inklusif dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.***

