PLTP Ulumbu Jadi Bukti Proyek Geotermal yang Aman jika Dikelola dengan Benar

Gubernur NTT, Melki Laka Lena (Foto: Dok. Humas NTT)

MANGGARAI, HN – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau PLTP Ulumbu di Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menjadi bukti bahwa proyek energi seperti geotermal dapat berjalan aman dan diterima masyarakat jika dikelola dengan baik.

Selama 13 tahun beroperasi, PLTP Ulumbu tidak mengalami gangguan berarti. Justru mendapat dukungan dari warga sekitar.

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Desa Wewo, Rabu 16 Juli 2025.

Dia menegaskan, keberhasilan PLTP Ulumbu merupakan contoh bahwa energi terbarukan bisa dikembangkan tanpa menimbulkan konflik sosial.

“Saya bersyukur sekali karena kita punya Ulumbu ini. Sejak beroperasi tahun 2012, aman terkendali. Ulumbu ini adalah bukti bahwa kalau dikelola dengan benar, maka akan menjadi berkat bagi kita semua,” kata Melki.

BACA JUGA:  Jadwal Kapal Fery dan Kapal Cepat di NTT Per 10 November 2022

Melki menyebut, polemik proyek geothermal di beberapa wilayah di Pulau Flores tetap harus disikapi dengan pendekatan dialogis.

Pemerintah Provinsi NTT, lanjut dia, berkomitmen untuk hadir dan mendengarkan aspirasi seluruh kelompok masyarakat, baik yang menolak, mendukung, maupun yang bersikap netral.

“Saya datang ke sini untuk berdialog langsung. Mari kita jaga persaudaraan yang sempat renggang dan mencari titik temu bersama,” jelasnya.

Masyarakat Desa Wewo menyambut baik kehadiran proyek Geothermal. Menurut mereka, selama beroperasi, proyek ini tidak menimbulkan gangguan terhadap aktivitas pertanian maupun kehidupan sosial warga.

“Hasil cengkeh tetap bagus, hasil sawah juga tidak terganggu. Kita hidup berdampingan dengan proyek ini tanpa kendala,” ujar Hendrikus Ampat, warga Desa Wewo.

BACA JUGA:  Pleno KPU Selesai, Melki-Johni Sah Jadi Pemenang Pilgub NTT 2024

Sementara itu, warga lain, Vinsen berharap keberadaan proyek tersebut bisa memberikan manfaat lebih luas, seperti perbaikan infrastruktur jalan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

“Kami minta agar proyek ini lebih memperhatikan kebutuhan warga. Ini penting agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Penolakan di Poco Leok

Warga Poco Leok tolak proyek Geothermal (Foto: Dok. Humas NTT)

 

Berbeda dengan Desa Wewo, penolakan terjadi di Desa Lungar, Poco Leok. Kedatangan Gubernur Melki ke desa tersebut disambut aksi demonstrasi oleh warga yang menolak rencana pengembangan proyek panas bumi.

Perwakilan warga, Merry, menyampaikan kekhawatiran bahwa proyek geotermal di Poco Leok akan mengganggu tatanan adat dan tidak memberikan keuntungan nyata bagi masyarakat.

BACA JUGA:  Melki Laka Lena Telepon Langsung Menteri Kehutanan, Bahas Pro-Kontra Cagar Alam Mutis

“Kami tidak melihat manfaatnya, justru bisa merusak kehidupan adat kami,” tegas Merry.

Gubernur Melki menyebut, kedatangannya ke Poco Leok adalah untuk mendengar langsung aspirasi warga. Ia menyebut aksi unjuk rasa sebagai bentuk ekspresi masyarakat yang patut dihormati.

“Saya pastikan ini bukan pertemuan terakhir. Saya ingin kita terus berdialog untuk menemukan solusi bersama. Geotermal itu tidak lebih penting dari persaudaraan,” ujarnya.

Melki menegaskan, pemerintah tidak memiliki niat buruk terhadap masyarakat Poco Leok dan berharap relasi sosial yang sempat tegang dapat kembali dipulihkan.

“Kalau kami berniat jahat terhadap Poco Leok, mungkin kami tidak akan selamat keluar dari sini,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!