KUPANG, HN – Euforia kepulangan tim Persebata Lembata ke Kota Lewoleba usai tampil di Liga 4 Nasional berubah jadi ajang protes. Di balik sorak sorai, ada nada sumbang yang tak bisa diredam.
Spanduk raksasa bertuliskan “Tidak Ada Ruang untuk Yudas di Sepak Bola Lembata” dibentangkan para suporter di tengah kerumunan. Isinya tegas dan penuh tudingan.
Kata “Yudas”, merujuk pada tokoh pengkhianat dalam tradisi Kristen, yang kini menjadi metafora untuk sosok yang dianggap mengkhianati Persebata.
Isu ini memicu kegaduhan di kalangan publik, dan menjadi perbincangan di group-group media sosial. Dalam konteks Persebata, siapa “Yudas” yang dimaksud?.
Meski pasukan Adnan Mahing sudah dipastikan promosi ke Liga 3 Nusantara musim depan, kegagalan Laskar Sembur Paus di 8 besar Liga 4 Nasional menyisakan banyak tanda tanya.
Bukan karena gagal melaju ke partai final Liga 4 Nasional, tapi ada dugaan pengkhianatan di dalam internal tim Persebata.
Kabar burung menyebut, jersey seorang pemain nomor 16 raib di momen krusial jelang laga melawan Persitara Jakarta Utara, Sabtu Mei 2025 lalu.
Jersey itu bukan tertinggal, bukan pula terselip. Tetapi Raib secara misterius. Desas-desus menyebut ada oknum di internal tim yang dengan sengaja menyabotase.
Dugaan ini semakin liar, ketika muncul kecurigaan bahwa ada “tangan-tangan gelap” yang sengaja menggembosi Laskar Sembur Paus dari dalam.
Tak hanya lewat spanduk, Lomblen Mania juga menyuarakan protes keras lewat yel-yel. “Hidup, makan, dan minum di tanah Lembata. Tapi kalau hati bukan untuk Lembata, jangan jadi Yudas!”. Yel-yel itu menggema seperti palu godam.
Menanggapi kegaduhan ini, Askab PSSI Lembata langsung membentuk tim investigasi untuk menyelidiki dugaan sabotase dan permainan kotor di tubuh manajemen Persebata Lembata.
Kemarahan suporter tentu menjadi peringatan keras. Laskar Sembur Paus harus dibersihkan dari pengkhianatan. Tidak boleh ada tempat untuk “Yudas”. Ini bukan sekedar sepak bola. Ini soal harga diri daerah.***

