KUPANG, HN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat berkomitmen untuk menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 secara efektif dan efisiensi tanpa pemborosan anggaran.
Sejumlah cabang olahraga atau cabor bahkan direncanakan akan dipertandingkan di Jakarta atau Bandung, bila pembangunan venue untuk PON nanti dinilai terlalu mahal.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena menyebut hal itu sudah disampaikan ke Presiden Prabowo Subianto usai peluncuran 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu.
Melki menjelaskan, usai peluncuran Sekolah Rakyat, ia bersama Gubernur NTB secara khusus menunggu Presiden Prabowo untuk menyampaikan kesiapan NTT-NTB menjadi tuan rumah PON 2028.
“Pada prinsipnya Presiden Prabowo menginginkan pelaksanaan PON harus efektif, efisien, berdampak, dan tidak ada pemborosan anggaran,” ujar Melki kepada wartawan di Kupang, Selasa 13 Januari 2026.
Dia menilai pengalaman PON sebelumnya menjadi pelajaran penting. Banyak venue dibangun dengan biaya besar, namun setelah PON berakhir justru terbengkalai dan tidak termanfaatkan.
“Contohnya di Papua, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Aceh-Sumut, dan daerah lainnya. Venue mahal dibangun, tapi setelah PON tidak dipakai lagi,” tegasnya.
Karena itu, kata dia, Pemprov NTT dan NTB sepakat tidak membangun venue baru untuk puluhan cabang olahraga yang akan dipertandingkan di PON nanti.
“Tidak ada pembangunan venue baru untuk lebih dari 20 cabor di NTT dan lebih dari 20 cabor di NTB. Kita hanya melakukan renovasi venue yang sudah ada, baik milik pemerintah, kampus, maupun swasta,” jelas Melki.
Untuk cabor yang membutuhkan venue khusus dengan biaya sangat mahal, pemerintah memilih opsi yang lebih realistis.
“Kalau venue itu mahal dan ternyata sudah tersedia di Jakarta atau Bandung, maka cabor tersebut akan dipertandingkan di sana,” ujarnya.
Melki menyebut, secara prinsip Prabowo sudah memahami dan menyetujui konsep tersebut. Namun, pemaparan lebih rinci masih akan dilakukan bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora).
“Nanti saya dan Gubernur NTB bersama Menpora akan menghadap Presiden untuk memaparkan secara detail. Secara lisan laporan sudah diterima dan konsep ini memungkinkan PON digelar di NTT dan NTB,” katanya.
Pemprov NTT dan NTB saat ini telah bergerak bersama KONI NTT, KONI Pusat, dan Kemenpora, sambil menunggu keputusan resmi dari Presiden Prabowo Subianto.
“Untuk SK tuan rumah kami upayakan secepatnya. Setelah paparan ke Presiden, baru keluar surat resmi agar kami bisa mempersiapkan diri secara penuh,” pungkas Melki.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma mengatakan, untuk sementara terdapat 22 cabang olahraga yang akan dipertandingkan di NTT, sedangkan di NTB sekitar 30 cabor.
“Rata-rata cabor bela diri yang berpotensi menyumbangkan medali emas akan dilaksanakan di NTT, karena itu adalah cabor unggulan kita,” jelas Johni.
Ia menegaskan, event Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 nanti harus menjadi momentum besar bagi daerah, baik itu NTT maupun NTB.
“PON nanti harus sukses sebagai penyelenggara, sukses administrasi, sukses prestasi, dan sukses pemberdayaan ekonomi. Empat tujuan ini wajib kita capai,” tegasnya.***

