NGADA, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena menyebut kemampuan numerasi dan literasi siswa di NTT saat ini mengalami penurunan. Para guru diminta lebih tegas dalam mendidik siswa dan tidak memanjakan mereka, terutama dalam hal kenaikan kelas.
Melki mengatakan itu saat menggelar pertemuan bersama pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan dan ketua OSIS SMA/SMK/SLB se-Kabupaten Ngada di SMA NEGERI 2 Bajawa, Rabu, 17 September 2025.
Menurutnya, kemampuan membaca, menulis, dan berhitung siswa di Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini tidak sebaik generasi sebelumnya.
“Dulu, tamat SD itu sudah bisa baca tulis dengan baik, tapi sekarang berbeda. Mau sampai kapan kita biarkan model begini terus terjadi?” ujar Melki.
Melki menegaskan, sangat penting peningkatan kualitas pendidikan di NTT. Guru diminta memastikan kelayakan siswa sebelum naik kelas.
“Kalau memang tidak naik kelas, jangan dipaksakan. Jangan memanjakan anak-anak. Kalau kita biasakan, besok mereka tidak bisa kompetitif di banyak hal,” tegasnya.
Untuk memperbaiki kualitas pendidikan, Pemprov NTT juga berkomitmen meningkatkan kapasitas guru dan tenaga kependidikan.
Menurut Melki, peningkatan kualitas SDM pendidik harus dilakukan berkelanjutan agar sesuai dengan perkembangan zaman.
Dia juga menyinggung soal kesejahteraan guru. Menurutnya, Pemprov NTT terus berupaya memberikan upah layak sesuai kemampuan fiskal daerah.
Melki mengungkapkan bahwa dari total anggaran Rp 5 triliun, sebanyak Rp 2,3 triliun dialokasikan untuk pendidikan. “Di antara semua sektor pembangunan, porsi anggaran paling besar ada di pendidikan,” jelasnya.
Selain peningkatan kualitas belajar, Gubernur Melki juga mendorong sekolah-sekolah mengembangkan kewirausahaan berbasis sekolah untuk mendukung operasional.
“Kalau mau, pasti bisa. Sekolah harus mulai memikirkan kewirausahaan agar bisa menopang kegiatan belajar mengajar,” ungkapnya.
Bupati Ngada, Raymundus Bena menyambut baik kunjungan Gubernur Melki dan rombongan. Menurutnya, pendidikan adalah kunci perubahan bagi daerah.
“Pendidikan ibarat pesawat tercepat yang mampu mendorong perubahan wilayah,” kata Raymundus.***

