NTT Masuk Daftar Tertinggi Kasus DBD, Gubernur Melki: Angka Kematian Naik Hampir Setiap Tahun

KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyebut angka kasus dan kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah NTT terus meningkat hampir setiap tahun.

Peringatan ini disampaikan saat pembukaan Seminar Aspek Klinis dan Pencegahan DBD Provinsi NTT yang digelar di Aston Kupang Hotel & Convention Center, Senin 4 Agustus 2025.

Seminar itu merupakan kolaborasi Dinas Kesehatan Provinsi NTT dan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), serta mendapat dukungan dari PT. Takeda Indonesia.

Melki yang hadir sebagai Keynote Speaker, menyebut NTT merupakan salah satu provinsi dengan tingkat endemisitas DBD tertinggi di Indonesia.

BACA JUGA:  HIV/AIDS Tembus 1.905 Kasus, Prostitusi Online Kian Marak di Kota Kupang

Menurut dia, seluruh kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai wilayah endemik dengan kejadian luar biasa (KLB) yang berulang.

“Seluruh kabupaten/kota di NTT tergolong endemik dengue. Angka kematian meningkat hampir setiap tahun. Jika kita tidak waspada, maka DBD akan terus menjadi masalah serius,” tegas Melki.

Dia menyebut, upaya pengendalian DBD harus dilakukan secara masif, kolaboratif, dan lintas sektor, termasuk peran aktif dari dokter, perawat, rumah sakit, puskesmas, hingga pemerintah desa.

Melki mendorong pemanfaatan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk penggunaan teknologi seperti Wolbachia dan program vaksinasi dengue, sebagai strategi pencegahan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

BACA JUGA:  DPW PAN NTT Sambut HUT ke-26, Gelar Senam Sehat dan Bagikan Sembako Gratis

“Melalui forum ini, saya berharap para tenaga kesehatan dapat memperkuat pemahaman tentang gejala klinis DBD, tata laksana kasus, surveilans terintegrasi, dan berbagai inovasi pencegahan,” jelasnya.

Dia berharap seminar ini dapat menghasilkan policy brief dan rekomendasi kebijakan yang berguna dalam merumuskan strategi jangka panjang penanggulangan DBD di NTT.

Ketua Panitia, Agustin Manafe, menjelaskan, seminar ini juga menjadi kelanjutan dari penelitian lapangan yang dilakukan di empat fasilitas kesehatan di Kota Kupang: RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, RS Siloam Kupang, RS S.K. Lerik, dan Puskesmas Sikumana.

BACA JUGA:  DPRD Desak Pemerintah Bergerak Cepat Antisipasi Masalah DBD di Sabu Raijua

“Tujuan utama seminar ini adalah meningkatkan kapasitas para klinisi dan menjadi bagian dari upaya pencegahan serta pengendalian DBD yang berkelanjutan di NTT,” jelasnya.

Narasumber yang dihadirkan diantarnya Prof. Dr. Jarir At Thobari (FK-KMK UGM) dan dr. Catharina P.S. Keraf dan dr. Regina Maya Manubulu (RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang).

Selain itu Ir. Erlina Salmun (Dinkes NTT) dan dr. Maria I. Husni (Dinkes Kota Kupang).

Acara yang dipandu dr. Hendriette Irene Mamo ini dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari kepala dinas kesehatan, peneliti, pengelola program DBD, hingga tenaga medis dari seluruh kabupaten/kota se-NTT.***

error: Content is protected !!