KUPANG, HN – Kuasa hukum Yupiter Selan, Fransisco Bernando Bessi, menyebut ada empat orang terduga pelaku yang diduga berada dibalik akun media sosial Lika Liku NTT. Pernyataan itu disampaikan terkait laporan polisi di Polda NTT atas sejumlah unggahan akun tersebut.
Menurut Fransisco Bessi, saat ini sudah ada sekitar 14 laporan polisi yang masuk ke Polda NTT berkaitan dengan aktivitas akun Lika Liku NTT.
Fransisco menjelaskan, dalam penanganan perkara ini yang menjadi penting adalah penerapan KUHP baru, khususnya mengenai definisi saksi.
“Ini yang menjadi penting adalah penerapan KUHP baru yaitu saksi. Kalau dulu saksi hanya orang yang melihat, mendengar, dan mengalami langsung,” kata Fransisco, Senin 20 April 2026.
Namun, kata dia, Pasal 1 poin 47 terdapat perluasan makna saksi, yakni termasuk orang yang memiliki data dan informasi terkait perkara.
“Di situ ada penambahan dan perluasan bahwa saksi juga orang yang memiliki data dan informasi. Dalam hal ini saya, karena saya riset, cari korban-korban dan dapat data,” ujarnya.
Fransisco menyebut, berdasarkan penelusuran dan keterangan sejumlah korban, terdapat empat orang yang diduga terlibat. “Pelakunya ini kurang lebih ada empat orang,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengaku belum bisa membuka identitas para terduga pelaku karena masih menunggu rilis resmi dari Polda NTT.
“Datanya mohon maaf saya belum bisa buka karena kita menunggu rilis resmi dari Polda NTT,” katanya.
Fransisco juga membeberkan dugaan modus yang digunakan. Menurutnya, korban terlebih dahulu diposting di akun Lika Liku NTT, lalu unggahan itu ramai oleh komentar dan interaksi dari akun palsu. “Yang komentar itu mereka sendiri gunakan akun palsu,” ungkapnya.
Setelah itu, unggahan dikirim kepada korban sehingga korban panik dan berupaya menghapus postingan tersebut. “Pada saat korban cari cara, otomatis dia menghubungi admin akun Lika Liku atau saksi yang katanya kenal admin,” jelasnya.
Ia menuding, dari situ korban dimintai uang dengan nominal bervariasi agar postingan dihapus. “Ada yang minta Rp 2 juta, bahkan hingga puluhan juta. Kalau tidak mau, mereka posting lagi,” ujarnya.
Fransisco Bessi mengatakan kini semakin banyak korban yang mulai berani berbicara terhadap apa yang sudah mereka alami.
“Sekarang korban-korban mulai berani berbicara. Pernyataan mereka akhirnya mengarah ke beberapa orang yang ini terang benderang, yang dia tidak bisa lari,” tandasnya.***

