NTT Percepat Swasembada Pangan, Produksi Padi dan Jagung Meningkat di 2025

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Willy Oemboe Wanda (Foto: Eman Krova)

KUPANG, HN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus mempercepat realisasi swasembada pangan.

Upaya ini sejalan dengan program nasional yang dicanangkan Presiden RI, Prabowo Subianto, serta visi Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dalam konsep “Dari Ladang ke Laut Menuju Pasar.”

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Willy Oemboe Wanda, mengatakan,Bpercepatan swasembada pangan di daerah membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Dia menyebut sinergitas dan kolaborasi antara berbagai lembaga sangat penting untuk mendukung program pemerintah pusat dan daerah.

“Kami terus membangun kolaborasi dengan BPS, Baperinda, dan Badan Pupuk Indonesia. Ini bagian dari dukungan terhadap program Gubernur dan Presiden,” ujar Joaz dalam pertemuan dengan Dinas Pertanian kabupaten/kota se-NTT, di Kupang, Jumat 25 Juli 2025.

BACA JUGA:  RSUP Ben Mboi Kupang Jadi Bukti Nyata Pengabdian Melki Laka Lena untuk NTT

Menurut Joaz, produksi sektor pertanian di NTT menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025, terutama komoditas padi dan jagung.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) NTT mencatat bahwa produksi padi meningkat 39,38 persen dibanding tahun sebelumnya. Luas panen padi dari Januari hingga April 2025 mencapai sekitar 50.440 hektare.

Sementara itu, produksi jagung juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Ketua Tim Statistik Produksi BPS NTT, Nurani Vita Christiani, menyebut produksi jagung pada Januari hingga Desember 2024 mengalami kenaikan 7,20 persen.

Bahkan, jika dibandingkan antara Januari-April 2025 dengan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi lonjakan luas panen hingga 24,76 persen.

BACA JUGA:  Dukung Ketahanan Pangan, Bendungan Mbay-Lambo Dijadwalkan Rampung Akhir Tahun 2025

“Kita harapkan tren ini terus berlanjut sehingga ketergantungan pada impor bisa ditekan,” ujar Joaz.

Di sisi lain, produksi bawang merah justru mengalami penurunan sekitar 161 ton pada 2025, dengan total produksi sebesar 874 ton. Penurunan ini disebabkan oleh luas tanam yang berkurang serta tingginya harga benih.

“Petani bawang merah kebanyakan dalam skala kecil. Kalau kita ingin mendorong budidaya ini, maka daya beli masyarakat juga harus didorong,” kata Joaz.

Sebaliknya, produksi bawang putih justru mengalami kenaikan. Joaz menjelaskan, pengembangan bawang putih saat ini berbasis program dan masih dalam skala kecil, tetapi dengan kualitas benih unggul.

BACA JUGA:  Bangun Citra Pemerintah, ASN Diminta Jadi Brand Ambassador di Instansi Masing-Masing

Meskipun produksi pangan menunjukkan hasil positif, Joaz menilai bahwa tantangan masih ada, terutama dalam hal ketersediaan dan perbaikan sistem irigasi.

Ia berharap agar pembangunan sarana pendukung pertanian seperti jaringan pengairan dapat terus ditingkatkan untuk menunjang hasil produksi para petani.

“Dulu ada wilayah yang tak menanam padi karena kekeringan. Tahun ini, karena curah hujan cukup baik, mereka mulai menanam lagi,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen untuk mendorong percepatan swasembada pangan dengan memanfaatkan potensi lokal dan dukungan kebijakan nasional.

Langkah ini diharapkan tidak hanya menjawab kebutuhan pangan daerah, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi berbasis pertanian.***

error: Content is protected !!