KUPANG, HN – ICRAF Indonesia berkomitmen mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah setempat.
Hal itu terungkap dalam lokakarya pelatihan pengantar kerangka kerja metodologi rencana pertumbuhan ekonomi hijau berketahanan iklim, pangan dan responsif gender di Hotel Swiss Belcourt, Kamis 30 Maret 2023.
Green Growth Planning and Policy Specialist, Feri Johana mengatakan, ICRAF sebagai salah satu mitra pembangunan berkomitmen untuk mendukung aspek metedologi, dimana pertumbuhan ekonomi hijau akan difasilitasi hingga selesai.
“ICRAF akan fasilitasi dari sisi metodologi, proses dan analisis. Sementara sisi kebutuhan ide dan gagasan datang dari OPD dan bapa ibu yang hadir saat ini,” ujar Feri Johana dalam sambutannya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi hijau merupakan gagasan dari model pembangunan kedepan, dengan mendayagunakan sumber daya yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Jadi ini dilakukan dengan cara yang berkelanjutan, dan juga bagaimana ekonomi masyatak NTT lebih baik lagi kedepan. Sehingga kita harap bapa ibu yang hadir bisa menjadi duta dari pertumbuhan ekonomi hijau di masing – masing institusinya,” jelasnya.
Dia menjelaskan, duta atau ambassador harus mampu menjelaskan bagaimana pertumbuhan ekonomi hijau, proses dan partisipasi kepada seluruh komponen yang ada di tingkat Provinsi NTT.
“Untuk itu kita harus sama – sama berkomitmen dan mensinergikan program kegiatan yang dilakukan, baik kepada OPD tingkat provinsi, maupun institusi lain,” ungkapnya.
Dia berharap agar kedepan Bappedalitbangda Provinsi Nusa Tenggara Timur bisa membentuk satu tim untuk bersama mengerjakan proses panjang dari pertumbuhan ekonomi hijau di NTT.
“Agar dalam proses perjalanan nanti tidak ada permasalahan, sehingga kita harap ada tim yang dibentuk, sehingga harus dirasakan manfaatnya,” pungkas Feri.
Plt Kepala Bappelitbangda Provinsi NTT, Alfons Theodorus, menjelaskan, ICRAF sendiri memiliki kontribusi untuk melakukan sejumlah kegiatan dengan tema bentang lahan, pembangunan iklim dan dan ekonomi hijau yang sedang berjalan saat ini.
“Beberapa waktu lalu ada kegiatan, bagaimana kita coba melihat dari aspek infrastruktur, kebencanaan dan bentang lahan, sehingga pembangunan pertumbuhan ekonomi hijau ini bisa berjalan baik,” jelasnya.
Menurut Alfons, jika berbicara ekonomi hijau, maka sejatinya sedang berbicara tentang potensi yang ada di Provinsi NTT, yang nantinya bisa didorong untuk meningkatkan ekonomi masyarakat NTT.
“Kita harus bicara indeks ekonomi hijau ini seperti apa? jadi bicara tentang ini sebenarnya kita sedang berpikir bagaimana bumi ini bertahan dalam ratusan tahun kedepan,” ungkapnya.
“Tetapi ini sudah menjadi domain dunia untuk mengatasinya. Jadi saya harap kita harus tingkatkan pemahaman tentang pertumbuhan ekonomi hijau ini,” tambah Alfons.
Dia berharap keberadaan ICRAF dapat bekerja kolaboratif, baik dari Bapeda sendiri, maupun membuka ruang untuk menjalin kerja sama dengan OPD lain.****

