KUPANG, HN – Pameran Pembangunan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berlangsung selama 10 hari mencatat perputaran transaksi lebih dari Rp5,3 miliar. Di balik angka itu, pameran yang ditutup pada Senin (24/8/2026) juga menjadi panggung solidaritas bagi warga Flores yang terdampak gempa.
Sebanyak 615 UMKM berpartisipasi dalam pameran yang digelar dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Hingga hari kesembilan, jumlah pengunjung mencapai 112.342 orang, sementara nilai transaksi pengunjung tercatat sebesar Rp5.363.636.000.
Data itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi NTT Adi E. Mandala dalam acara penutupan Pameran Pembangunan di Area Pameran Hotel Harper Kupang, Senin (24/8/2026).
Penutupan pameran tersebut dirangkaikan dengan Malam Solidaritas Peduli Gempa Flores, yang mengangkat tema “Yang Tertusuk Padamu, Berdarah Padaku.”
Perayaan pameran pembangunan tahun ini berlangsung ketika sebagian masyarakat NTT masih menghadapi dampak gempa bumi yang mengguncang Flores 15 Agustus 2026 lalu.
Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melkiades Laka Lena menyebut angka transaksi selama pameran menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak meski daerah sedang menghadapi situasi darurat akibat bencana.
Namun, menurutnya, aktivitas ekonomi tidak seharusnya menghilangkan kepedulian terhadap mereka yang terdampak. “Ekonomi boleh terus bergerak, tetapi kepedulian harus tetap hidup. Kita bangkit bersama, kita peduli bersama, dan kita pulih bersama,” ujar Melki.
Pameran menjadi wadah ratusan UMKM untuk menjual dan memperkenalkan produk mereka. Bagi sebagian pelaku usaha, tingginya jumlah pengunjung membuka kesempatan untuk bertemu konsumen secara langsung dan memperluas pasar.
Di sela kegiatan ekonomi tersebut, berlangsung pula penggalangan donasi, pengumpulan bantuan dan berbagai aksi sosial untuk masyarakat yang terdampak gempa Flores.
Melki mengapresiasi pelaku UMKM, seniman, komunitas, relawan dan masyarakat yang ikut mengambil bagian dalam aksi solidaritas tersebut.
Melki mengatakan penutupan pameran tidak semata-mata dimaksudkan untuk merayakan berbagai capaian pembangunan NTT.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk menggalang dukungan bagi masyarakat Flores yang sedang menghadapi masa sulit.
“Melalui acara penutupan pameran ini, bukan sekadar unjuk pembangunan di NTT, tetapi kita juga memberikan donasi yang maksimal untuk saudara-saudara kita di Flores,” jelasnya.
Ia mengatakan solidaritas harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam bentuk rasa prihatin. “Di tengah suasana duka yang dialami saudara-saudara kita di Flores, kita memilih untuk tidak hanya bersimpati, tetapi juga bergerak bersama, bergandengan tangan, dan memberikan dukungan nyata,” ungkap Melki.
Bencana gempa Flores membuat perhatian pemerintah dan masyarakat NTT tidak berhenti pada fase tanggap darurat.
Dukungan dari pemerintah pusat, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi sosial, relawan dan masyarakat terus dibutuhkan untuk membantu proses pemulihan.
Melki menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan kepada masyarakat terdampak. Ia berharap solidaritas tersebut tidak berhenti ketika status tanggap darurat berakhir.
Pameran Pembangunan juga menjadi gambaran tentang bagaimana masyarakat NTT menghadapi situasi sulit, tetap bekerja, tetap menjalankan kegiatan ekonomi, namun pada saat yang sama berusaha membantu mereka yang membutuhkan.
Ia berharap pameran tersebut dikenang bukan hanya karena jumlah pengunjung atau nilai transaksi yang tercatat, tetapi juga karena masyarakat tetap memilih untuk berbagi ketika sebagian wilayah NTT sedang menghadapi bencana.
Menutup sambutannya, Melki mengutip penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri “Yang tertusuk padamu, berdarah padaku.”
“Rasa sakit yang dialami saudara-saudari kita di Flores adalah luka kita bersama. Sebab NTT adalah satu keluarga,” pungkasnya.***

