Melki Paparkan Capaian 10 Dasa Cita dalam Pidato Pembangunan HUT RI

KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena memaparkan 10 Dasa Cita dalam Pidato Pembangunan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pidato itu disampaikan Melki di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026). Sepuluh Dasa Cita itu menjadi gambaran arah pembangunan NTT selama periode kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma.

Melki menempatkan Dasa Cita sebagai turunan visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan sekaligus upaya menerjemahkan Asta Cita pemerintah pusat sesuai kebutuhan daerah.

Sepuluh agenda itu mencakup ekonomi kerakyatan, pemberdayaan perempuan dan anak muda, pariwisata, perlindungan sosial, kesehatan, pendidikan vokasi, infrastruktur, reformasi birokrasi, transformasi digital, hingga kolaborasi.

Berikut 10 Dasa Cita yang dipaparkan Melki:

1. Dari Ladang dan Laut ke Pasar

Dasa Cita pertama diarahkan untuk membangun rantai ekonomi dari hulu hingga hilir. Melki menyoroti pertanian, peternakan, kelautan, perikanan, hilirisasi, UMKM, koperasi, investasi, hingga penguatan pasar produk lokal.

Sektor pertanian dan peternakan disebut menyerap sekitar 2,3 juta tenaga kerja dan berkontribusi 28,9 persen terhadap PDRB NTT. Pemerintah menargetkan pencetakan sawah rakyat seluas 4.634,79 hektare pada 2026.

Di sektor peternakan, populasi sapi meningkat dari 582 ribu ekor pada 2023 menjadi lebih dari 778 ribu ekor pada 2026. Pengiriman sapi keluar daerah hingga 22 Juli 2026 mencapai 43 ribu ekor.

Potensi laut juga terus dikembangkan. Produksi perikanan tangkap meningkat dari 87 ribu ton pada 2024 menjadi hampir 96 ribu ton pada 2025. Produksi rumput laut mencapai 1.248.126 ton pada 2025, sedangkan produksi garam rakyat mencapai 20.542 ton.

Melki menegaskan hasil alam NTT tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. “Inilah arah Dasa Cita Pertama, membangun rantai ekonomi dari hulu hingga hilir, agar hasil ladang, ternak, dan laut NTT tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi menjadi produk bernilai tambah yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Melki.

Penguatan OVOP, OCOP, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan NTT Mart menjadi bagian dari strategi tersebut. Hingga 2026, disebut telah terbentuk 22 gerai NTT Mart yang melibatkan sedikitnya 820 pelaku UMKM dan memasarkan lebih dari 25 ribu produk lokal.

2. Milenial dan Perempuan, Motor Kreativitas Lokal

Dasa Cita kedua menempatkan anak muda dan perempuan sebagai penggerak ekonomi kreatif. Hingga 2025 tercatat 10.820 pelaku ekonomi kreatif di NTT, terutama pada subsektor kriya, kuliner dan fesyen.

BACA JUGA:  Prof. Yafet Kritik Janji Politik Mantan Kepala Daerah yang Hanya Jadi Wacana

Pemprov NTT mendorong penguatan kapasitas, perlindungan hak kekayaan intelektual, akses modal, inkubator bisnis hingga perluasan pasar.

Anggaran inkubator bisnis meningkat dari Rp3,1 miliar pada 2025 menjadi Rp3,8 miliar pada 2026. Program itu diperluas dari 200 menjadi 450 penerima manfaat di 11 kabupaten/kota.

Pemberdayaan perempuan juga dilakukan melalui perlindungan dari kekerasan, penguatan usaha dan pelatihan ekonomi produktif.

Melki ingin kreativitas masyarakat tidak berhenti pada pelatihan. “Kita tidak sekadar memberikan pelatihan dan bantuan, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan kreativitas, keterampilan, usaha, kelembagaan, dan pasar,” jelasnya.

3. Wisata NTT, Penggerak Ekonomi Lokal

Pariwisata menjadi Dasa Cita ketiga. Melki menyebut keberhasilan pariwisata tidak cukup hanya dilihat dari jumlah wisatawan yang datang. Lama tinggal dan besarnya belanja wisatawan di masyarakat lokal juga menjadi ukuran penting.

Pada 2025, sekitar 1,84 juta wisatawan berkunjung ke NTT. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sekitar 1,56 juta wisatawan pada 2024. Rata-rata lama tinggal juga naik dari 1,49 hari menjadi 1,67 hari.

NTT memiliki lebih dari 1.600 daya tarik wisata, lebih dari 300 destinasi bahari dan 534 desa wisata. Labuan Bajo menjadi salah satu Destinasi Pariwisata Super Prioritas.

Pemerintah memperkuat promosi, event, desa wisata, UMKM, pemandu lokal dan ekonomi kreatif. Melki menegaskan budaya harus tetap menjadi kekuatan masyarakat.

“Pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi juga dari manfaat bagi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan terjaganya identitas budaya,” ungkapnya.

4. Kesejahteraan Bersama

Dasa Cita keempat menyasar perlindungan sosial dan ketenagakerjaan. Melki menyoroti masyarakat miskin, pekerja rentan, penyandang disabilitas, lanjut usia hingga pekerja migran.

Tingkat kemiskinan NTT pada Maret 2026 tercatat 17,52 persen, turun 1,08 poin persentase dibandingkan Maret 2025.

Pemprov NTT juga memberikan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian kepada 102.200 pekerja rentan pada 2026.

Pekerja yang mendapat perlindungan berasal dari petani, nelayan, pedagang kecil, pelaku UMKM, buruh, pengemudi, pekerja jasa dan pekerja informal lainnya.

Perlindungan pekerja migran juga diperkuat sejak sebelum keberangkatan, selama bekerja hingga kembali ke daerah asal.

5. Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat dan Bebas Stunting

Dasa Cita kelima berfokus pada kesehatan. Melki menegaskan penurunan stunting membutuhkan kerja lintas sektor. Bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga sektor pangan, sanitasi, air bersih, pendidikan keluarga dan perlindungan anak.

BACA JUGA:  Audit dan Rencana Bisnis Jadi Syarat Penyertaan Modal di PT Flobamor

Berdasarkan data ePPGBM, prevalensi stunting NTT turun dari 21,1 persen pada 2024 menjadi 20,2 persen pada 2025. Hingga Mei 2026 tercatat 22,8 persen.

Pemprov NTT memperkuat Posyandu, program orang tua asuh, layanan ibu dan anak, imunisasi, telemedisin dan fasilitas kesehatan.

Kasus malaria juga disebut turun dari sekitar 8.900 kasus pada 2024 menjadi sekitar 4.300 kasus pada 2025 dan sekitar 1.200 kasus hingga pertengahan 2026.

Melki juga menyoroti penurunan kematian akibat rabies dari 46 jiwa pada 2024 menjadi 8 jiwa hingga pertengahan 2026.

6. Sekolah Vokasi Unggulan Berbasis Potensi Daerah

Dasa Cita keenam berkaitan dengan pendidikan dan kualitas generasi muda. Melki menegaskan pendidikan NTT harus terhubung dengan kebutuhan dunia kerja dan potensi daerah.

Pada 2025, APK SMA/SMK mencapai 100,51 persen. Rata-rata lama sekolah meningkat menjadi 8,22 tahun. Pemprov NTT juga memperkuat sekolah vokasi dan membangun fasilitas pendidikan di sejumlah wilayah.

Program pendampingan seleksi UTBK, TNI, Polri dan sekolah kedinasan diikuti 1.984 peserta. Sebanyak 3.003 siswa disebut berhasil diterima di perguruan tinggi negeri. “Kita tidak hanya ingin membangun sekolah, tetapi membangun manusia,” jelasnya.

Pengembangan kepemudaan dan olahraga juga menjadi bagian dari agenda ini, termasuk persiapan menuju PON XXII 2028 saat NTT dan NTB menjadi tuan rumah.

7. Jalan, Air, Rumah Layak Huni

Dasa Cita ketujuh diarahkan pada penguatan infrastruktur dasar. Pemprov NTT menangani 2.687,31 kilometer jalan provinsi yang tersebar di 111 ruas.

Tingkat kemantapan jalan meningkat dari 67,99 persen pada 2024 menjadi 69,48 persen pada 2025. Pada 2026 pemerintah menargetkan rehabilitasi jalan sepanjang 9,4 kilometer dan pemeliharaan rutin 1.753,99 kilometer.

Di sektor air, Pemprov NTT mengelola 42 daerah irigasi dengan luas 60.328 hektare. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk pembangunan SPAM, sumur bor dan jaringan perpipaan.

Hunian masyarakat menjadi perhatian melalui rehabilitasi 188 rumah tidak layak huni dan pembangunan 361 rumah baru layak huni pada 2026. Di bidang energi, rasio elektrifikasi meningkat dari 96,35 persen pada 2024 menjadi 96,51 persen pada 2025.

8. Pendapatan Daerah Naik, Pelayanan Publik dan Kesejahteraan ASN Terjamin

Dasa Cita kedelapan menyasar pembenahan birokrasi. Nilai Reformasi Birokrasi NTT meningkat dari 75,63 pada 2024 menjadi 75,80 pada 2025. Indeks Pelayanan Publik juga naik dari 3,56 menjadi 4,21.

BACA JUGA:  Disnaker Gelar Donor Darah hingga Dialog Interaktif Peringati May Day di NTT

Pemprov NTT memperkuat kompetensi aparatur melalui pendidikan dan pelatihan. Pada 2024 terdapat 6.461 peserta yang mengikuti pendidikan dan pelatihan, sedangkan pada 2025 sebanyak 5.853 peserta.

Keterbukaan informasi menjadi bagian lain dari pembenahan pemerintahan. Pemprov NTT meraih nilai 93,30 dalam Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik 2025 dengan kualifikasi Informatif.

Sementara itu, kanal MeJa Rakyat atau Melki Johni Melayani Rakyat digunakan sebagai ruang pengaduan masyarakat dengan target penyelesaian maksimal 3 x 24 jam.

9. Transformasi Digital yang Inklusif, Aman dan Terintegrasi

Dasa Cita kesembilan membawa NTT masuk lebih jauh ke era digital. Melki menyebut Indeks Masyarakat Digital NTT pada 2024 berada di angka 42,32. Sekitar 60 persen desa masih menghadapi blank spot.

Karena itu, pemerintah mengembangkan Digital NTT Terintegrasi, pembangunan BTS, Smart Village, internet berbasis satelit serta penguatan SPBE dan Portal Satu Data NTT Sasando.

Program NTT Cakap Digital juga disiapkan melalui pelatihan 300 operator desa sebagai Duta Digital. Selain akses, keamanan digital menjadi perhatian.

Program Siber Sehat NTT diluncurkan pada 9 Mei 2026 untuk menghadapi hoaks, disinformasi, penipuan daring, eksploitasi anak, kekerasan digital hingga risiko psikologis penggunaan teknologi.

Digitalisasi juga diterapkan dalam pelayanan peternakan dan perizinan usaha. Hingga Semester I 2026, Pemprov NTT telah menerbitkan 4.058 izin dan 8.058 NIB.

Jumlah Mal Pelayanan Publik juga meningkat dari enam kabupaten/kota pada 2024 menjadi sembilan daerah pada 2025.

10. Ayo Bangun NTT, Kolaborasi Bersama

Dasa Cita terakhir menjadi pengikat seluruh agenda pembangunan. Melki menegaskan NTT tidak mungkin dibangun oleh pemerintah seorang diri.

Pemerintah membutuhkan dukungan masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, anak muda dan seluruh pemangku kepentingan.

Dukungan Pemerintah Pusat juga dinilai penting. Melki menyebut tambahan DAU sebesar Rp1,094 triliun menjadi salah satu dukungan yang memperkuat ruang fiskal NTT.

“NTT tidak akan dibangun oleh satu tangan, satu lembaga, satu tingkat pemerintahan, atau satu generasi. NTT hanya akan maju ketika kita memilih untuk maju bersama,” ungkapnya.

Melki juga menegaskan posisi NTT sebagai bagian strategis Indonesia. “Kita hidup di Selatan Indonesia, tetapi kita tidak pernah berada di pinggir cita-cita Indonesia,” jelasnya.***

error: Content is protected !!