Melki Buka Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya Sambut HUT ke-81 RI

KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena membuka dan melepas Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya tingkat Provinsi NTT, Kamis 13 Agustus 2026.

Kegiatan yang digelar untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu berlangsung di Jalan El Tari, tepat di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT.

Sebanyak 69 peserta ambil bagian dalam pawai dan karnaval budaya tersebut. Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), pelajar, perguruan tinggi, paguyuban etnis, komunitas, instansi vertikal, TNI, Polri, Kejaksaan, perbankan, BUMN hingga berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya, Melki mengapresiasi panitia dan seluruh peserta yang telah berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurut dia, Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya menjadi salah satu agenda tahunan yang dinantikan masyarakat NTT.

Kegiatan ini menjadi ruang untuk menampilkan keberagaman adat, budaya, kreativitas, sekaligus hasil pembangunan daerah.

“Ini acara yang selalu kita tunggu setiap tahun karena menampilkan seluruh kekuatan yang ada di NTT, baik dari berbagai instansi maupun adat, budaya, pakaian dan macam-macam yang lain,” ujar Melki.

BACA JUGA:  Ekonomi NTT Bertumbuh Positif Ditengah Gempuran Pandemi COVID-19

Melki berharap pawai dan karnaval budaya tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Menurutnya, momen itu harus dimanfaatkan untuk memperkuat kebersamaan, nasionalisme, sekaligus melestarikan budaya NTT.

Dia juga mendorong agar semangat peringatan kemerdekaan berjalan seiring dengan penguatan program pembangunan daerah.

Salah satunya melalui pengembangan produk unggulan daerah dengan pendekatan One Village One Product (OVOP), One Community One Product (OCOP), dan One School One Product (OSOP).

Melki mengatakan pengembangan produk tersebut dapat melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk paguyuban, kelompok kerukunan, instansi vertikal, BUMN, BUMD, OPD, hingga komunitas.

“Semoga kita terus membuat NTT ini melahirkan banyak produk-produk andalan melalui program OVOP, OCOP, OSOP yang bisa dilahirkan dari berbagai institusi, berbagai kelompok, kelompok kerukunan, paguyuban, instansi vertikal, BUMN, BUMD, OPD, dan semuanya,” jelasnya.

Selain itu, Melki mengajak masyarakat mendukung penerapan jam belajar masyarakat pada pukul 18.00-19.30 WITA.

BACA JUGA:  RUPS Bank NTT Tetapkan Charile Paulus Jadi Dirut, Target Laba Bersih Rp260 Miliar di 2026

Program itu diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk belajar sekaligus memperkuat kebersamaan keluarga.

Ketua Panitia Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya 2026, Beni Nahak, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menampilkan kemeriahan budaya, busana, dan kreativitas masyarakat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi NTT itu menyebut pawai menjadi ruang refleksi mengenai identitas masyarakat NTT, asal-usul, serta perjalanan bersama sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pawai pembangunan dan karnaval budaya 2026 hendaknya kita maknai sebagai perjalanan simbolik dari keberagaman menuju persatuan, dari identitas menuju kebersamaan, dari kebersamaan menuju kemajuan,” ungkap Beni.

Menurut Beni, keberagaman suku, etnis, budaya, dan agama yang hidup berdampingan di NTT merupakan kekuatan penting dalam pembangunan daerah.

Karena itu, setiap peserta yang mengikuti iring-iringan pawai membawa pesan tentang pentingnya persatuan dan pembangunan yang tetap berakar pada manusia serta kebudayaan.

BACA JUGA:  Misi Kemanusiaan Pertemukan Uskup Larantuka dan Melki Laka Lena di Posko Penyintas Erupsi Lewotobi

Beni mengatakan antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang rute pawai menunjukkan kegiatan tersebut telah menjadi salah satu agenda yang dinantikan masyarakat.

Selain menghadirkan hiburan yang sehat dan edukatif, pawai juga memberikan dampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat.

Berbagai pelaku UMKM dan sektor jasa mendapat ruang untuk memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Mulai dari penyewaan pakaian adat, tata rias, dekorasi, transportasi, fotografi, kerajinan hingga kuliner.

“Pembangunan tidak pernah merupakan pekerjaan satu pihak. Pembangunan adalah kerja sama, kebudayaan adalah milik bersama, dan masa depan Nusa Tenggara Timur adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Pawai Pembangunan dan Karnaval Budaya tingkat Provinsi NTT 2026 digelar melalui kolaborasi lintas perangkat daerah, paguyuban, instansi, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat.

Selain menjadi rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan ini bertujuan memperkenalkan hasil pembangunan, melestarikan dan mempromosikan kebudayaan NTT, mempererat silaturahmi antarpaguyuban etnis, serta menghadirkan hiburan yang sehat dan edukatif bagi masyarakat.***

error: Content is protected !!