KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank NTT senilai Rp350 miliar terserap maksimal oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh NTT.
Melki menegaskan, pembiayaan KUR harus digunakan secara produktif agar mampu menggerakkan usaha, menciptakan lapangan kerja, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
“Modal jangan cuma dipinjam. Modal harus diubah menjadi usaha, usaha menjadi lapangan kerja, dan lapangan kerja menjadi masa depan,” ujar Melki, Kamis 13 Agustus 2026.
Menurut dia, NTT memiliki potensi ekonomi yang besar, mulai dari sektor pertanian, perikanan, peternakan, UMKM hingga hasil hutan. Namun, potensi tersebut harus diolah di daerah agar nilai tambahnya tidak terus mengalir keluar.
“Kita punya petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, juga hasil hutan yang luar biasa. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk mengolahnya menjadi produk dan usaha yang tumbuh di tanah sendiri,” jelasnya.
Melki mengajak pelaku UMKM memanfaatkan fasilitas KUR Bank NTT dengan bunga 6% untuk mengembangkan usaha secara produktif.
Bank NTT pada 2026 memperoleh plafon KUR sebesar Rp350 miliar. Melki menargetkan pembiayaan tersebut dapat terserap secara maksimal hingga Oktober 2026.
“Tahun ini Bank NTT mendapat plafon KUR Rp350 miliar. Target saya, sampai Oktober, pembiayaan ini sudah terserap maksimal oleh pelaku usaha kecil di NTT,” ungkap Melki.
Dia menilai percepatan penyaluran KUR menjadi penting karena pembiayaan tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pelaku usaha lokal.
Namun, Melki mengingatkan agar KUR tidak berhenti sebagai akses pembiayaan. Modal yang diterima pelaku UMKM harus mampu menghasilkan pertumbuhan usaha dan membuka kesempatan kerja baru.
Melki juga mengutip pesan Menteri UMKM RI Maman Abdurrahman bahwa KUR bukan satu-satunya solusi untuk mendorong UMKM naik kelas.
Menurutnya, pembiayaan perlu berjalan beriringan dengan legalitas usaha, sertifikasi, digitalisasi, pendampingan, hingga akses pasar.
“Modal harus berjalan bersama legalitas, sertifikasi, digitalisasi, pendampingan, hingga akses pasar. UMKM harus masuk dalam ekosistem agar bisa naik kelas,” terangnya.
Melki turut mendorong generasi muda NTT agar tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga mulai menciptakan lapangan kerja melalui kewirausahaan.
“Saya ingin anak-anak muda NTT tidak hanya sibuk mengirim lamaran kerja. Kita harus mulai menciptakan pekerjaan,” tegasnya.
Dia menggambarkan pengembangan UMKM sebagai proses bertahap. Usaha yang bermula dari skala kecil diharapkan dapat berkembang menjadi usaha yang lebih besar dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Dari penjual kecil, tumbuh menjadi pengusaha. Dari usaha kecil, naik kelas menjadi usaha besar,” jelas Melki Laka Lena.
Sosialisasi KUR Bank NTT yang digelar bersama Partai Golkar NTT tersebut diikuti sekitar 2.500 pelaku UMKM dari 22 kabupaten/kota di NTT.
Melki menilai kegiatan tersebut bukan sekadar sosialisasi pembiayaan, tetapi bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi yang membuat modal berputar di tengah masyarakat.
“Sosialisasi KUR Bank NTT bersama Partai Golkar NTT ini bukan sekadar acara. Ini tentang bagaimana uang berputar di tangan rakyat dan kembali menjadi kekuatan ekonomi NTT,” terangnya.
Dia pun mengajak pelaku UMKM memanfaatkan KUR secara tepat sasaran dan mengembangkan usaha dengan berorientasi pada peningkatan skala bisnis. “KUR-nya kita manfaatkan. Usahanya kita kembangkan. NTT-nya kita bangun,” pungkas Melki.***

