RAIJUA, HN – Perayaan Natal Oikumene tingkat Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, menjadi momen untuk memperkuat kerukunan lintas iman dan merawat persaudaraan di tengah keberagaman. Natal Oikumene ini digelar di Halaman Kantor Kecamatan Raijua, Jumat 9 Januari 2026.
Natal Oikumene Raijua diinisiasi Pemerintah Kecamatan Raijua dan berkolaborasi dengan gereja-gereja Kristen lintas denominasi, yakni GMIT, GBI, GSJA, GMMI, serta umat Katolik.
Sekitar 1.000 umat atau jemaat serta masyarakat dari berbagai latar belakang hadir dalam suasana penuh sukacita dan kebersamaan.
Rangkaian acara diawali dengan penanaman pohon secara simbolis di lingkungan Kantor Kecamatan Raijua.
Kegiatan ini menjadi wujud syukur atas berkat alam Raijua sekaligus penanda dimulainya musim tanam bagi masyarakat setempat.
Penanaman pohon tersebut juga menjadi bagian dari ajakan Pemerintah Kecamatan Raijua melalui gerakan “Satu Keluarga Menanam Satu Pohon” demi mewujudkan Raijua yang hijau, asri, serta menjaga ketahanan mata air dalam jangka panjang.
Ibadah Natal dipimpin secara oikumene oleh para pelayan lintas denominasi gereja. Khotbah disampaikan Ketua Majelis Jemaat GMIT Paulus Nadega, Pdt. Setiawan Patipaelohy, M.Th, dengan bacaan Firman dari Matius 7:15–23.
Pdt. Setiawan menyebut Natal mengingatkan kehadiran Allah yang berinkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan umat-Nya dari keberdosaan.
Natal, kata dia, bukan perayaan tanpa makna, melainkan ajakan untuk hidup dalam kebenaran dan integritas.
“Allah hadir bukan untuk memecah belah, tetapi untuk menyelamatkan seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang. Karena itu, kita dipanggil hidup dalam kebenaran, persaudaraan, dan integritas di mana pun berada,” ujarnya.
Ketua Panitia Natal Oikumene Raijua, Yulianus Baki Boni, dalam sambutannya yang dibacakan protokoler acara menyebut Natal bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi panggilan untuk peduli, melayani, dan berbagi kasih dengan sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
“Natal adalah pembawa damai. Natal mengajak kita melawan intoleransi, hoax, ujaran kebencian, dan polarisasi dengan membangun persaudaraan serta kasih,” ujar Yulianus.
Ia mengatakan, makna Natal harus diwujudkan dalam tanggung jawab etis terhadap alam, antara lain dengan mengurangi penggunaan plastik, menanam pohon, serta menghemat energi sebagai wujud syukur atas ciptaan Tuhan.
Selain itu, Natal Oikumene Raijua juga dimaknai sebagai penguatan keluarga agar sehat secara spiritual dan sosial, sekaligus bijak dalam penggunaan teknologi.
“Natal menjadi refleksi syukur atas perjalanan tahun 2025 dan harapan baru menyongsong tahun 2026 di tengah tantangan global dan nasional,” jelasnya.
Plt Camat Raijua, Djibrael Radja Kudji, menyampaikan ucapan Selamat Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 kepada seluruh masyarakat.
Djibrael menegaskan, pemerintah dan gereja adalah mitra strategis yang berjalan beriringan dalam melayani dan peka terhadap kebutuhan umat serta masyarakat.
“Natal menjadi momen untuk terus berbenah diri, berpikir positif, dan mendukung pembangunan hal-hal baik demi kemajuan daerah yang kita cintai, Bumi Raijua,” kata Djibrael.
Sekretaris Panitia Natal Oikumene Raijua, Andreas A. R. Koro, menegaskan, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling mencederai.
Menurutnya, kerukunan harus dirawat sebagai panggilan etis, bukan sekadar seremoni.
“Kita hidup dalam bingkai NKRI, satu tanah air, satu bangsa, dan satu tujuan. Melalui Natal Oikumene, kita diingatkan bahwa nilai persatuan dan kebersamaan adalah fondasi utama masyarakat yang sehat,” ujarnya.
Perayaan Natal Oikumene Raijua turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Sabu Raijua Fraksi NasDem Markus Tuka, A.Md, para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda lintas agama, pensiunan guru dan pegawai, serta kepala sekolah SMA, SMP, dan SD se-Raijua.***

