SIKKA, HN – Distribusi bantuan untuk warga terdampak gempa bumi Flores sempat tertahan setelah material longsor menutup sebagian badan jalan di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu 29 Agustus 2026.
Polisi bersama TNI dan masyarakat langsung bergerak untuk membuka akses jalan agar bantuan kembali dapat disalurkan untuk warga terdampak gempa di Pulau Palue.
Peristiwa terjadi saat sebuah kendaraan yang membawa bantuan bagi masyarakat terdampak gempa terjebak setelah jalur yang dilaluinya tertutup tanah, batu, dan material longsoran.
Personel Polri bersama TNI dan warga kemudian turun langsung ke lokasi. Dengan peralatan yang tersedia, material longsor dibersihkan secara bertahap hingga kendaraan pembawa bantuan dapat kembali melanjutkan perjalanan.
Kapolda NTT Irjen Pol Dr Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., melalui Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., mengatakan respons cepat menjadi penting dalam penanganan kondisi darurat pascabencana.
Menurutnya, ketika akses masyarakat terganggu, aparat harus segera mengambil langkah sesuai kondisi di lapangan. Hal itu dilakukan agar distribusi bantuan tidak terhenti dan masyarakat tidak semakin kesulitan.
“Ketika akses masyarakat terganggu, personel Polri harus hadir dan mengambil langkah nyata sesuai kondisi di lapangan. Tujuannya agar bantuan tetap dapat bergerak dan masyarakat tidak semakin kesulitan akibat terputusnya akses,” ujar Henry.
Pembukaan jalan tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu kendaraan bantuan yang sempat terjebak. Jalur yang kembali terbuka juga menjadi akses penting bagi masyarakat Palue untuk mendapatkan kebutuhan pokok, pelayanan, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Proses pembersihan material longsor dilakukan secara bertahap. Personel bersama masyarakat menyingkirkan tanah dan bebatuan yang menutup badan jalan.
Kondisi lapangan menjadi perhatian karena wilayah Palue masih terdampak gempa. Potensi pergerakan tanah juga membuat proses pembersihan dilakukan dengan tetap memperhatikan keselamatan.
Semangat gotong royong antara aparat dan masyarakat turut mempercepat pembukaan akses. Warga ikut membantu membersihkan material yang menutup jalur sehingga kendaraan bantuan dapat segera kembali bergerak.
Henry mengapresiasi keterlibatan masyarakat dan seluruh unsur yang membantu penanganan longsor tersebut.
Menurutnya, sinergi Polri, TNI, pemerintah dan masyarakat menjadi modal penting dalam menghadapi kondisi darurat, terutama di wilayah kepulauan seperti Palue yang memiliki tantangan geografis tersendiri.
“Semangat gotong royong seperti ini sangat penting. Polri bersama TNI, pemerintah dan masyarakat akan terus berupaya memastikan kebutuhan warga terdampak dapat dijangkau, termasuk ketika menghadapi kendala akses,” jelasnya.
Setelah material longsoran berhasil disingkirkan, kendaraan yang sebelumnya tertahan dapat kembali melanjutkan perjalanan untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat.
Personel juga melakukan pemantauan terhadap kondisi jalan dan lingkungan sekitar. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya longsoran susulan.
Masyarakat yang melintas di kawasan itu diimbau tetap berhati-hati, terutama pada titik yang masih terdapat material longsor maupun lokasi yang menunjukkan tanda-tanda pergerakan tanah.
Warga juga diminta segera berkoordinasi dengan aparat apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan keselamatan.
“Yang paling utama itu keselamatan warga. Kami mengajak masyarakat tetap waspada, saling membantu dan segera melaporkan apabila ada wilayah yang membutuhkan bantuan atau akses yang kembali mengalami kendala,” imbau Henry.***

