KUPANG, HN – Usia telah merenggut banyak hal dari tubuh Amesi. Kakinya tak lagi kokoh, punggungnya membungkuk, dan keriput memenuhi wajahnya. Namun satu hal yang tak berhasil diambil waktu adalah tekadnya.
Di usia 80 tahun, perempuan rentah yang tinggal di Kelurahan Naioni, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu masih memikul keranjang kayu di punggungnya.
Setiap hari, ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain, menjajakan ubi, jagung, pisang, sayur, dan kebutuhan dapur lainnya.
Keranjang itu tidak saja mengisi barang dagangan. Tetapi juga tersimpan perjuangan seorang ibu yang menukar sisa tenaga demi menjaga dapur tetap mengepul dan masa depan anaknya.
Hari Amesi dimulai sejak pagi. Dari rumahnya di Naioni, ia menumpangi angkutan umum dengan membawa keranjang dagangan menuju Pasar Kasih Naikoten, Kota Kupang.
Dari sana, ia mulai berjalan kaki. Langkahnya tertatih ketika menyusuri trotoar panas. Tak peduli deru roda besi yang melintas silih berganti. Punggungnya tampak membungkuk seperti ranting tua yang telah lama digerus musim.
Di bahunya ia memanggul keranjang sederhana terbuat dari anyaman bambu. Seperti hari-hari sebelumnya, Amesi kembali menawarkan dagangan kepada siapa saja yang ia temui di jalan.
Langkahnya kini pendek dan lambat. Sesekali ia berhenti. Bukan karena ingin, tetapi karena tubuhnya memaksa. Tempat yang ia sering istirahat adalah di depan Alfamart El Tari Kupang.
Orang-orang keluar masuk Alfamart, salah satu ritel modern yang kini tengah menjamur hampir seluruh kota di NTT. Sebagian melirik, sebagian lagi berlalu tanpa benar-benar melihat.
Amesi bangkit perlahan. Ia mendekati mereka dengan langkah kecil, menawarkan dagangannya dengan suara yang nyaris berbisik. Tidak ada paksaan. Tidak ada keluhan.
Sebagian dari mereka berhenti, bukan untuk membeli, tetapi memberikan sedikit berkat dari kantong mereka.
Dia menerima dengan syukur, tetapi harapannya tetap sama, yakni dagangannya dibeli. Bukan saja dikasihani orang.
“Kalau saya tidak jalan jualan, siapa yang mau kasih makan kami,” ujar Amesi singkat, saat ditemui awak media, Selasa 17 Februari 2026 siang.
Ia tahu, usianya tak lagi muda. Tubuhnya sering sakit. Kadang ia harus berhenti lebih lama untuk mengumpulkan tenaga yang tersisa. Tetapi berhenti sepenuhnya bukan pilihan.
Sebab di rumah, ada alasan yang menunggunya untuk terus berjalan meski dengan langkah yang dipaksakan, dan tekad yang tak pernah surut demi biaya sekolah anak dan mengisi perut yang kosong.
Suami Amesi telah lama pergi menghadap sang khalik. Kehilangan suami membuatnya harus memikul tanggung jawab besar. Kini, ia seorang diri menjadi tulang punggung keluarga.
Dari dua anak perempuannya, salah satunya telah meninggal dunia. Satu-satunya anak yang tersisa masih duduk di bangku salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Kota Kupang.
“Saya jualan untuk ongkos anak sekolah dan makan minum kami di rumah,” ujarnya.
Penghasilan Amesi pun tidak menentu. Jika dagangannya laku, ia bisa membawa pulang sekitar Rp400 ribu. Namun seringkali, dagangan itu kembali ke rumah tanpa terjual.
Dia mungkin tidak lagi memiliki tenaga yang utuh. Tetapi masih menyimpan mimpi yang membuatnya menolak untuk menyerah, yakni masa depan anaknya.
Amesi kini tidak lagi bisa berjalan sejauh dulu. Rasa sakit di kaki membuatnya lebih sering berhenti untuk beristirahat.
“Saya masih jalan untuk jualan. Tetapi karena kaki saya sakit jadi istirahat dulu. Habis baru pergi jualan lagi,” pungkasnya.***

