JAKARTA, HN – Provinsi NTT kebagian sejumlah proyek raksasa senilai Rp21 triliun dari pemerintah pusat, usai Gubernur Melki bersama bupati dan wali kota se-NTT melakukan roadshow ke 21 kementerian dan lembaga di Jakarta, tanggal 17 hingga 22 Maret 2025 lalu.
Salah satu proyek unggulan yang bakal digulirkan ke NTT adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp9 triliun. Selain itu, mega proyek tambak udang di Sumba senilai Rp8 triliun dan investasi garam industri senilai Rp4,2 triliun juga dipastikan mengalir ke NTT.
Melki menyebut, meski pemerintah pusat tengah melakukan efisiensi anggaran, namun Nusa Tenggara Timur tetap dapat alokasi dana besar dari sejumlah program yang akan digulirkan di NTT.
“Uang yang bisa digelontorkan ke NTT ternyata sangat banyak. Misalnya lewat kebijakan makan bergizi gratis. Uang yang akan masuk ke NTT bisa mencapai Rp9 triliun. Ini tentu akan menggerakan ekonomi rakyat,” kata Melki saat peluncuran buku Melipat Jarak Kupang-Jakarta, di Jakarta, Sabtu 5 Juli 2025.
Selain proyek fisik, NTT juga mendapatkan peluang kemitraan dengan DKI Jakarta sebagai pasar utama produk UMKM asal Flobamora.
Menurut Melki, sejumlah pihak serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah berkomitmen untuk menampung produk lokal NTT, mulai dari hasil pertanian, perikanan, hingga produk olahan UKM.
“Ada komitmen investasi dan bantuan lainnya dari sejumlah pihak. Termasuk kesediaan DKI Jakarta menjadi pasar bagi sejumlah produk UMKM NTT,” jelasnya.
Seluruh proses dan hasil roadshow dituangkan dalam buku berjudul “Melipat Jarak Kupang-Jakarta: Percepat Pembangunan NTT-Sentris untuk Flobamora” yang ditulis jurnalis Agustinus Tetiro.
“Ide buku ini muncul spontan, tapi penting untuk merekam langkah konkret kami memperjuangkan aspirasi rakyat NTT langsung ke pusat kekuasaan,” kata Melki.
Gubernur Melki turut mengajak semua elemen bangsa, baik dari pemerintah pusat, swasta, NGO, hingga diaspora, untuk terlibat membangun NTT.
“Lewat semangat Ayo Bangun NTT, mari kita jadi jembatan antara pusat dan daerah, untuk masyarakat. Kita butuh kerja gotong royong,” pungkasnya.***

