UPG NTT Minta 439 Lulusan Berani Buka Usaha dan Ciptakan Lapangan Kerja

Rektor Universitas Persatuan Guru 1945 (UPG 1945) NTT Uly Jonathan Riwu Kaho (Foto: Ist)

KUPANG, HN – Rektor Universitas Persatuan Guru 1945 (UPG 1945) NTT Uly Jonathan Riwu Kaho meminta 439 lulusan untuk tidak berhenti belajar setelah meraih gelar sarjana. Mereka didorong menjadi bagian dari solusi dengan menciptakan pekerjaan dan perubahan di tengah masyarakat.

Pesan itu disampaikan Uly dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka Wisuda Sarjana X UPG 1945 Kupang di Hotel Harper Kupang, Rabu 9 September 2026.

Uly mengatakan ijazah yang diterima para wisudawan tidak saja dokumen akademik. Gelar itu menjadi tanda bahwa mereka telah dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

“Ilmu membuat Saudara mampu berpikir, karakter membuat Saudara berdiri teguh, dan kepedulian mengarahkan ilmu serta karakter itu bagi kepentingan banyak orang,” ujar Uly.

Uly menegaskan UPG 1945 NTT terus berbenah dan bertransformasi. Pengembangan kampus tidak hanya diarahkan untuk pertumbuhan jumlah mahasiswa, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan sumber daya manusia.

Menurut dia, kepercayaan masyarakat terhadap UPG 1945 NTT, kata dia, terus tumbuh. Hal itu ditandai dengan penerimaan lebih dari 1.200 mahasiswa baru pada tahun ini.

BACA JUGA:  Hilirisasi Non Tambang, Melki-Johni Komit Optimalkan Potensi Lokal Tanpa Eksploitasi Alam di Molo, TTS

Dia menyebut pertumbuhan itu harus diikuti peningkatan mutu agar UPG 1945 mampu melahirkan lulusan yang memiliki ilmu, karakter, dan kepedulian.

Uly turut memperkenalkan konsep Tri Bakti Tekad Kita yang menjadi nilai yang terus dikembangkan UPG 1945 NTT. Konsep itu mencakup takut akan Tuhan, memiliki perencanaan yang baik, serta membangun kolaborasi dan super team.

Uly berharap para lulusan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan pekerjaan. “Tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan; tidak hanya menunggu perubahan, tetapi menciptakan perubahan; serta tidak hanya mengkritik keadaan, tetapi bekerja untuk memperbaikinya,” jelasnya.

Sebanyak 439 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi Wisuda Sarjana X UPG 1945 di Hotel Harper Kupang.

Mereka terdiri dari 208 lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 58 Fakultas Hukum, 23 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, 135 Fakultas Ekonomi, serta 15 lulusan Fakultas Pertanian.

Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma yang hadir dalam acara tersebut juga meminta para lulusan berani mandiri dan membuka usaha.

BACA JUGA:  Pemkab SBD Dorong Produk Unggulan Desa Masuk Pasar Modern

Johni mengatakan gelar sarjana bukan akhir perjalanan. Para lulusan akan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif, sementara lapangan pekerjaan formal terbatas.

“Jadilah pencipta lapangan kerja, jadilah mandiri, mau berwirausaha. Jangan berharap kerja kantoran atau kerja di pemerintah,” tegas Johni.

Wagub Johni mengingatkan para lulusan agar tidak hanya mengandalkan ijazah ketika memasuki dunia kerja. Menurutnya, lulusan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Penguasaan teknologi informasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komunikasi, public speaking, dan bahasa Inggris dinilai penting.

“Di samping ijazah, Anda harus memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus yang dibutuhkan. Kalau tidak bisa menguasai ini, kita akan kalah bersaing,” ujarnya.

Kemampuan bahasa Inggris, lanjut Johni, juga dapat memperluas peluang, termasuk untuk bekerja di luar negeri dan melanjutkan pendidikan melalui berbagai program beasiswa.

Selain hard skill, Johni menekankan pentingnya soft skill. Para lulusan diminta memiliki disiplin, manajemen waktu, kemampuan bekerja sama, komunikasi, kreativitas, inovasi, empati, berpikir kritis, keberanian, dan integritas.

BACA JUGA:  Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka Gelar Seminar inspiratif-Modul Nusantara di Kampung Adat Tutubhada Nagekeo

“Tanpa disiplin tidak ada keberhasilan. Disiplin itu nomor satu, tidak bisa ditawar-tawar,” tegasnya.

Johni juga mengingatkan para sarjana agar tetap rendah hati, menghormati orang tua dan orang lain serta menjaga kejujuran.

Menurutnya, kecerdasan akademik harus berjalan bersama karakter yang baik karena dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang yang dapat dipercaya.

Dalam sambutannya, Johni turut menyampaikan belasungkawa atas musibah gempa yang melanda Flores beberapa minggu sebelumnya. Ia berharap masyarakat dan keluarga korban diberikan kekuatan dalam menghadapi bencana tersebut.

Johni juga memberikan apresiasi kepada para orang tua yang telah berjuang mendukung pendidikan anak-anak mereka hingga meraih gelar sarjana.

“Selamat kepada semua wisudawan-wisudawati atas kerja keras dan kesuksesan ini. Anda menjadi kebanggaan orang tua, saudara,” ujarnya.

Johni mengingatkan bahwa perjalanan para sarjana masih panjang. “Ini baru satu tahapan dalam hidup yang sudah berhasil saudara lewati. Perjalanan ke depan masih panjang. Tantangan di depan sangat besar dan berat,” pungkas Johni.***

error: Content is protected !!