KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengajak perbankan hingga dunia usaha ikut memperkuat pengembangan agribisnis jagung. Menurut Melki, peningkatan produksi harus dibarengi pembiayaan, pendampingan, inovasi, dan kepastian pasar bagi petani.
Hal itu disampaikan Melki saat mencanangkan Gebyar Gelar Teknologi Budidaya Jagung Hibrida dan Gerakan Masyarakat Agribisnis Jagung (GEMA AGUNG) di Balai Benih Tarus, Desa Air Mata, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Jumat 14 Agustus 2026.
“Pencanangan GEMA AGUNG hari ini menjadi sangat penting. Saya berharap GEMA AGUNG tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan atau slogan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangun agribisnis jagung NTT dari hulu sampai hilir,” ujar Melki.
Melki mengatakan pengembangan jagung di NTT tidak boleh hanya berorientasi pada kegiatan tanam dan panen. Petani harus menjadi bagian utama dalam rantai agribisnis sehingga memperoleh nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan.
“Kita ingin petani tidak hanya menjadi orang yang menanam dan memanen, tetapi menjadi bagian utama dari sebuah usaha agribisnis yang memberikan nilai tambah,” jelasnya.
Dia menjelaskan pemerintah akan berperan melalui kebijakan dan pendampingan. Sementara dunia usaha diharapkan membuka akses pasar, perguruan tinggi menghadirkan inovasi, dan petani menjadi pelaku utama produksi.
“Pemerintah hadir dengan kebijakan dan pendampingan, dunia usaha membuka akses pasar, perguruan tinggi menghadirkan inovasi, dan petani menjadi pelaku utama dalam proses produksi,” tutur Melki.
Menurutnya, jagung memiliki posisi yang sangat besar bagi masyarakat NTT. Selain menjadi bahan pangan, jagung juga dibutuhkan industri pakan ternak dan mempunyai nilai ekonomi.
NTT memiliki lahan yang luas serta pengalaman masyarakat dalam bertani jagung. Namun, potensi itu dinilai belum sepenuhnya optimal karena produktivitas masih perlu ditingkatkan.
“Karena itu, tantangan kita ke depan bukan hanya memperluas lahan, tetapi bagaimana meningkatkan produktivitas dari lahan yang sudah ada,” jelasnya.
Melki mengatakan peningkatan produktivitas perlu dilakukan melalui penggunaan benih unggul dan bersertifikat, teknologi budidaya, pemupukan berimbang, pengelolaan lahan, serta penanganan panen dan pascapanen.
Dia juga meminta petani terbuka terhadap penerapan teknologi pertanian. Menurutnya, teknologi dapat membuat proses produksi lebih efektif sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
“Jangan takut mencoba cara baru yang memang terbukti memberikan hasil lebih baik. Pertanian kita harus berkembang mengikuti perubahan zaman,” ungkapnya.
GEMA AGUNG, lanjut Melki, juga menjadi momen untuk mendorong regenerasi petani dengan memperbanyak keterlibatan petani milenial.
Dia mengajak generasi muda NTT tidak takut masuk ke sektor pertanian dan memanfaatkan inovasi teknologi dalam mengembangkan usaha.
Melki menegaskan peningkatan produksi jagung tidak bisa dibebankan kepada petani. Ada sejumlah kebutuhan yang harus dipenuhi agar petani mampu meningkatkan produksi sekaligus mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
“Petani membutuhkan dukungan benih, pupuk, teknologi, pembiayaan, pendampingan dan yang paling penting adalah kepastian pasar,” jelasnya.
Karena itu, dia meminta kolaborasi pemerintah, petani, penyuluh, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, Bulog, produsen benih, serta pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat.
“Kita ingin ketika produksi meningkat, petani juga mendapatkan harga dan pendapatan yang lebih baik,” sambungnya.
Melki berharap pencanangan GEMA AGUNG di Balai Benih Tarus menjadi awal gerakan bersama untuk mengembangkan jagung NTT secara lebih modern dan berorientasi pada kesejahteraan petani.
“Kita memiliki sumber daya, kita memiliki lahan, kita memiliki petani dan kita juga memiliki mitra. Yang kita perlukan adalah kemauan untuk bekerja bersama dan konsistensi untuk melaksanakannya,” pungkasnya.
Pemprov NTT akan memperkuat koordinasi dan pendampingan agar pengembangan jagung hibrida berjalan konsisten dari tingkat produksi hingga pemasaran.
Direktur Perbenihan Tanaman Pangan pada Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Dr Ir Ladiyani Retno Widowati MSc, mengatakan NTT memiliki kondisi agroklimat dan karakteristik lahan yang mendukung pengembangan tanaman pangan dan hortikultura.
“Kondisi agroklimat dan karakteristik lahan di NTT sangat mendukung pengembangan tanaman pangan maupun hortikultura secara bersamaan,” kata Ladiyani.
Dia mengatakan pemanfaatan potensi tersebut harus dilakukan secara terencana dengan memperhatikan kesesuaian lahan, kondisi iklim, ketersediaan air, serta karakteristik wilayah.
Menurutnya, pengembangan tanaman pangan dan hortikultura secara terpadu dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani.
Diversifikasi komoditas juga dinilai dapat memperluas sumber pendapatan masyarakat dan memperkuat perekonomian di kawasan perdesaan.
Diketahui, acara itu dihadiri jajaran Kementerian Pertanian RI, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, kepala dinas pertanian kabupaten/kota, penyuluh, kelompok petani jagung, pelaku usaha perbenihan, perbankan, mahasiswa, serta perwakilan petani dari sejumlah daerah di NTT.***

