KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur, Melki Laka Lena dikecam warganet ketika mendampingi Wapres Gibran Rakabuming Raka kunjungan kerja di Kabupaten Rote Ndao dan Amfoang, Kabupaten Kupang, NTT.
Warganet menilai eks Wakil Ketua Komisi IX DPR RI itu sibuk bermain ponsel saat warga menyampaikan aspirasi ke Wapres Gibran.
Namun, tuduhan itu ternyata tidak benar. Melki disebut sedang mencatat aspirasi atau keluhan warga di ponsel miliknya.
Dholvy Cardozo yang adalah orang dekat Melki Laka Lena menyebut Melki tidak sedang bermain ponsel saat mendampingi Gibran.
Melki, kata dia, sedang mencatat sejumlah poin penting, masukan dan keluhan dari masyarakat melalui ponsel miliknya.
Dia menyebut, setiap orang punya tipikal berbeda. Ada yang saat dialog lebih suka mencatat di buku, ada juga yang memilih mencatat lewat HP. Caranya beda, tetapi tujuannya sama.
“Jika melihat gubernur tekan Hp saat dampingi Wapres, itu bukan dia sedang main HP. Tetapi ia sedang catat poin penting yang disampaikan warga maupun arahan dari Wapres,” ujar Dholvy, Sabtu 23 Mei 2026.
Menurut dia, kebiasaan mencatat di handphone memang sudah lama dilakukan Melki Laka Lena, bahkan sejak masih menjadi anggota DPR RI.
Dalam berbagai forum maupun rapat, Melki lebih terbiasa menggunakan catatan digital dibanding buku catatan konvensional.
“Banyak orang yang sudah lama mengenal beliau tahu kalau Pak Melki memang terbiasa mencatat poin-poin penting lewat HP. Itu sudah menjadi kebiasaan kerja beliau sejak lama,” jelasnya.
Saat kunker Gibran, warga menyampaikan berbagai persoalan secara langsung, mulai dari infrastruktur hingga pelayanan publik.
Di tengah dialog Melki tampak beberapa kali melihat dan mengetik di handphone untuk mencatat berbagai aspirasi yang disampaikan warga agar dapat ditindaklanjuti pemerintah daerah.
Namun, potongan video berdurasi singkat yang beredar di media sosial memunculkan persepsi berbeda karena tidak memperlihatkan konteks utuh kegiatan saat itu.
Dholvy berharap masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian hanya berdasarkan potongan video singkat yang beredar di media sosial.
“Kadang orang hanya melihat beberapa detik video lalu langsung menyimpulkan. Padahal, apa yang terlihat di kamera belum tentu menggambarkan keseluruhan situasi,” pungkasnya.***

