KUPANG, HN – Organisasi konservasi laut Thresher Shark Indonesia (TSI) memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk melestarikan spesies laut yang terancam punah, khususnya Hiu Tikus Pelagis (Alopias pelagicus) dan Pari Mobula. TSI juga melibatkan komunitas pesisir di Alor dan Flores Timur.
TSI menyampaikan pencapaian berupa penurunan drastis angka perburuan Hiu Tikus dari 300 menjadi hanya 20–30 ekor per tahun.
Strategi yang diterapkan mencakup pendekatan edukatif kepada nelayan lokal serta pelatihan diversifikasi ekonomi keluarga pesisir.
“Nelayan kini lebih memilih menangkap ikan Tuna, sementara istri-istri mereka diberdayakan dalam usaha mikro seperti abon Tuna, granola jagung titi, dan tenun motif Hiu Tikus,” ujar
Program Manager TSI, Yodhikson Marvelous Bang, Jumat 25 Juli 2025.
TSI juga merencanakan inisiatif konservasi Pari Mobula di Kecamatan Solor Timur. Program ini akan melibatkan pemuda melalui kampanye kreatif di media sosial guna meningkatkan kesadaran publik soal perlindungan spesies laut.
“Dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda NTT) juga sangat penting agar gerakan ini menjangkau lebih luas,” kata Yodhikson.
Di bidang pendidikan, TSI sudah menerapkan kurikulum konservasi laut di 15 sekolah, dan berencana menambah lima sekolah lagi. Program ini melibatkan guru honorer serta evaluasi berkala untuk memastikan efektivitas materi.
“Kami berharap ada dukungan dari Pemprov untuk pengadaan alat peraga, modul, dan jaringan sekolah tambahan,” jelasnya.
Selain kegiatan lapangan, TSI mendorong lahirnya regulasi daerah (Perda) guna memperkuat kerangka hukum konservasi dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena mengapresiasi dan mendukung langkah yang telah dilakukan TSI. Ia menilai pendekatan TSI menyentuh dua sisi, yakni konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Pemerintah Provinsi NTT siap membangun kolaborasi lebih lanjut termasuk memperluas program pendidikan konservasi ke sekolah-sekolah lain di NTT, serta memperkuat sektor UMKM dan ekowisata berbasis laut,” ujar Melki.
Gubernur Melki menyinggung potensi sinergi di berbagai bidang, mulai dari wisata bahari, pendidikan lingkungan hidup, hingga ekonomi kreatif komunitas.
“Pemerintah Provinsi menyambut baik semangat dan inovasi yang ditunjukkan oleh generasi muda dalam inisiatif seperti TSI, dan berkomitmen menjadikan model ini sebagai referensi untuk pengelolaan wilayah pesisir lain di seluruh wilayah NTT demi kelestarian alam di bumi Flobamorata,” tandasnya.***

