30 Tahun Imamat Romo Leo Diabadikan Lewat Buku ‘Bergerak dari Pinggiran’

KUPANG, HN – Tiga dekade perjalanan imamat R.D. Dr. Leonardus Mali diabadikan dalam buku Bergerak dari Pinggiran. Buku itu merekam perjalanan pelayanan, perjumpaan, persahabatan hingga kiprah sosial Romo Leo Mali selama 30 tahun. Peluncuran sekaligus bedah buku berlangsung di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, Jumat 2 Oktober 2026.

Kegiatan itu turut dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wali Kota Kupang Christian Widodo.

Buku Bergerak dari Pinggiran tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan imamat Romo Leo. Buku tersebut juga hadir sebagai liber amicorum atau buku kenangan yang menghimpun kesan, pengalaman, perjumpaan dan persahabatan dari berbagai pihak yang pernah hadir dalam perjalanan hidup serta pelayanan Romo Leo.

Buku itu sekaligus menjadi galeri perjalanan 30 tahun imamat yang mendokumentasikan berbagai momen dan karya pelayanan selama tiga dekade.

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi perjalanan 30 tahun imamat Romo Leo. Menurutnya, tiga dekade itu tidak hanya mencerminkan pengabdian spiritual, tetapi juga menunjukkan banyaknya perjumpaan dan kontribusi Romo Leo di tengah masyarakat.

“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi NTT, saya menyampaikan selamat merayakan ulang tahun imamat ke-30 buat Romo Leo, dan terima kasih atas berbagai sumbangsihnya bagi pembangunan NTT,” ujar Melki.

BACA JUGA:  DPRD Sebut Pemprov Rekayasa Data Kemiskinan dan Stunting, Melki: Itu dari BPS

Dia menyebut perjalanan 30 tahun tersebut menyimpan banyak pengalaman, perjumpaan, persahabatan, pelayanan dan pembelajaran yang kini dirangkum dalam sebuah karya untuk generasi berikutnya.

Melki juga menyinggung judul Bergerak dari Pinggiran. Menurutnya, istilah itu memiliki pesan penting tentang keberanian melihat kehidupan masyarakat secara dekat, terutama kelompok yang selama ini berada di luar pusat perhatian.

Ia mengaitkan gagasan itu dengan Evangelii Gaudium yang mendorong Gereja keluar dari zona nyaman dan hadir di wilayah-wilayah “pinggiran”.

“Spiritualitas belas kasih ini dihidupi secara nyata oleh Romo Leo Mali dalam dinamika pelayanannya di Keuskupan Agung Kupang,” jelasnya.

Menurut Melki, pelayanan Romo Leo tidak berhenti di altar atau mimbar. Ia menyebut Romo Leo hadir di jalan, ruang kelas, forum diskusi hingga bersama petani, peternak dan nelayan.

Melki juga menyinggung latar belakang Romo Leo yang dekat dengan dunia gerakan. Pengalaman berelasi dengan berbagai kalangan sejak muda disebut ikut membentuk wawasan sosialnya.

“Ditunjang kepribadian yang terbuka, luwes, dan suka mendengar, Romo Leo mampu menjalin jejaring luas dari tingkat lokal hingga internasional,” ujar Melki.

Dia menilai latar belakang akademis Romo Leo di bidang filsafat memperkuat landasan pelayanan yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

BACA JUGA:  NTT Defisit Rp51 T per Tahun, Melki: Harus Beralih dari Konsumtif ke Produktif

Melki turut menghubungkan nilai pelayanan dengan tantangan era digital. Ia menyinggung penggunaan media digital yang tidak terkontrol dan dampaknya terhadap keluarga serta pendidikan karakter.

Pemerintah Provinsi NTT, kata dia, telah meluncurkan Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2026 tentang Gerakan Jam Belajar di Lingkungan Masyarakat pada pukul 18.00-19.30 WITA.

Gerakan tersebut mengimbau keluarga mematikan televisi dan ponsel sejenak untuk membangun komunikasi keluarga, berdoa serta mendampingi anak belajar.

Wali Kota Kupang Christian Widodo menilai makna “pinggir” dalam buku Bergerak dari Pinggiran tidak hanya berkaitan dengan lokasi geografis. Menurutnya, “pinggir” juga menyangkut cara manusia melihat dan mendengarkan sesamanya.

“Pinggir juga bukan hanya persoalan tempat, tapi menyangkut cara pandang manusia juga. Banyak yang suaranya pelan harus kita dengar mulai dari pinggir, dan kaum yang termarjinalkan justru bisa dilihat lebih jelas,” ujar Christian.

Ia mengatakan gagasan itu penting karena masyarakat di wilayah atau kelompok yang berada di pinggiran memiliki pengalaman dan suara yang perlu didengar dalam membangun kehidupan bersama.

Ketua TP PKK Provinsi NTT Mindriyati Astiningsih Laka Lena juga mengungkap pengalamannya bersama Romo Leo dalam mendampingi sejumlah persoalan sosial di NTT.

BACA JUGA:  ENTETE Voice dan Ivan Nestorman Meriahkan Deklarasi Akbar MELKI-JOHNI di Labuan Bajo

Asti menyebut mereka pernah terlibat dalam upaya pendampingan berbagai persoalan, termasuk kasus pelecehan seksual dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Menurutnya, persoalan itu membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak. Gereja, kata Asti, memiliki peran penting dalam mendampingi masyarakat, terutama korban dan kelompok rentan.

“Gereja punya peran yang sangat penting untuk terus hadir dan mengawal persoalan-persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Dan Romo Leo Mali memiliki andil besar dalam perjalanan pendampingan dan pengawalan berbagai persoalan tersebut,” ungkap Asti.

Romo Leonardus Mali mengatakan Bergerak dari Pinggiran merupakan bagian dari perjalanan reflektif selama menjalani 30 tahun imamat.

Buku itu merekam berbagai pengalaman, perjumpaan dan persahabatan yang menjadi bagian dari perjalanan pelayanan selama tiga dekade.

Konsep liber amicorum digunakan untuk menghimpun kesaksian, kesan dan kenangan orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup dan pelayanan Romo Leo.

Sementara galeri 30 tahun imamat menjadi dokumentasi visual dan naratif berbagai peristiwa yang telah dilalui.

Bedah buku berlangsung dalam suasana dialogis dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat. Kegiatan tersebut tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan pengabdian dan pelayanan Romo Leo selama tiga dekade.***