KUPANG, HN – Kain tenun khas Nusa Tenggara Timur dengan sentuhan modern dan elegan tampil dalam ajang Bali European Fashion Week 2023.
Koleksi busana yang dirancang Adolfina Koamesakh memukau di panggung fashion, dengan menampilkan busana adat khas NTT.
Kain tradisional NTT tampil begitu unik melalui sulapan tangan Adolfina Koamesakh dan Joko SSP, yang adalah salah satu designer asal Kota Solo.
Fina, demikian ia disapa, merupakan salah seorang yang sangat meminati wastra Nusantara dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dia juga mencintai produk-produk lokal berupa tenun NTT. Melalui tangan kreatifnya, ia mampu membuahkan rancangan fashion yang elegan dan memiliki daya tarik tersendiri.
Menurut Adolfina, koleksi gaun dan baju yang dirancang menggunakan bahan kain tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Saya ingin menunjukan bahwa inilah keindahan wastra Indonesia yang banyak ragamnya,” ujar Adolfina usai fashion show di Cafe Del Mar Bali, sejak tanggal 2-4 April 2023 lalu.
“Kebetulan saya dan mas Joko SSP, Fashion designer alas Kota Solo sepakat mengambil wastra dari Indonesia Timur, sekaligus memperkenalkan budaya kita sehingga para ekspatriat mempunyai referensi,” tambah Adolfina.
Dia menjelaskan, mayoritas ekspatriat di Bali memang menyukai warna-warna yang terang. Sedangkan tenun ikat dari NTT maupun kain tradisional di Indonesia pada umumnya berwarna gelap.
Sehingga, kata dia, ke depan ia berpikir untuk berkreasi agar para ekspatriat tertarik untuk menggunakan wastra Indonesia dengan menyesuaikan warna-warna yang mereka sukai.
“Saat ini sudah mulai banyak dilakukan oleh para penenun dari NTT maupun di Sumatera Utara. Para perajin ini mulai berani keluar menggunakan warna-warna yang bukan warna tradisional. Terutama untuk keperluan ekonomis sekaligus kebutuhan fashion masa kini,” ungkapnya.
Ia menerangkan, sejak dahulu memang ia selalu tertarik dan menggunakan pakaian tradisional, tidak hanya tenun ikat dari NTT. Tetapi kemanapun ia pergi selalu mengoleksi wastra Nusantara.
“Termasuk ulos Batak saya jahit dan saya jadikan kostum kerja saya. Jadi sejak dulu saya sudah seringkali mengkombinasikan kain tradisional ini dengan linen sehingga tercipta satu rancangan baju,” jelasnya.
Ke depan, Fina berkeinginan untuk membina UMKM yang sudah mulai aktif di NTT. Bahkan sejak tahun 2018 dirinya langsung mendatangi para penenun di NTT, untuk membantu mencukupi benang-benang yang mereka butuhkan.
“Khusus dalam fashion show kali ini saya menampilkan outfit yang menyasar untuk kalangan milenial. Sehingga pandangan kaum muda saat ini tak sekadar kain tradisional. Jadi ada kemasan tersendiri yang lebih up to date sesuai dengan kemauan dan keinginan mereka,” ungkapnya.
“Karena itulah kita kombinasikan tenun ikat dengan batik. Harapannya kedepan bisa lebih menarik kaum milenial untuk mencintai wastra Nusantara. Sekaligus mengedukasi mereka terhadap kearifan lokal,” tandanya.
Untuk diketahui, Adolfina E. Koamesakh seorang fashion designer yang juga Dosen Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan, Sumatera Utara. (SK/HN).***

