KUPANG, HN – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma merilis buku berjudul “Asa dan Rasa” sebagai refleksi satu tahun kepemimpinan mereka membangun NTT.
Buku itu menjadi catatan perjalanan, refleksi, sekaligus bentuk pertanggungjawaban moral kepada masyarakat atas berbagai langkah pembangunan yang telah dijalankan selama setahun terakhir.
“Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, kita dapat melalui satu tahun perjalanan kepemimpinan ini dalam semangat pengabdian dan harapan,” ujar Melki dalam pengantar buku, dilansir media ini, Kamis 9 April 2026.
Melki menegaskan, satu tahun pertama kepemimpinan memang belum cukup untuk mengubah seluruh wajah pembangunan NTT. Namun, periode ini menjadi langkah awal untuk meletakkan fondasi, memperjelas arah kebijakan, dan memperkuat komitmen pembangunan yang inklusif.
Menurutnya, pembangunan Nusa Tenggara Timur harus tumbuh bersama, berjalan merata, serta menempatkan masyarakat sebagai pusat utama atau episentrum kebijakan.
“Memimpin NTT bukan sekadar mengelola birokrasi, tetapi juga menghadirkan keadilan dan merawat keberagaman,” jelasnya.
Dalam buku itu, Melki-Johni menegaskan semangat “Ayo Bangun NTT” sebagai gerakan kolektif, bukan sekadar slogan.
Pembangunan, kata dia, harus bersifat kolaboratif, partisipatif, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, maupun geografis.
Melalui berbagai program seperti OVOP (One Village One Product), OCOP, OSOP, NTT Mart, hingga Dapur NTT, pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa dan usaha kecil.
“Ekonomi harus tumbuh dari tangan rakyat, agar manfaatnya tidak terkonsentrasi, tetapi menyebar ke seluruh masyarakat,” terangnya.
Selain ekonomi, Melki mengatakan pembangunan sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur sangat penting sebagai fondasi inklusivitas.
Mantan anggota DPR RI ini menegaskan, layanan dasar tersebut merupakan hak setiap warga, bukan sekadar program pemerintah.
“Tidak boleh ada anak NTT tertinggal karena jarak. Tidak boleh ada keluarga kehilangan harapan karena keterbatasan layanan,” tegasnya.
Buku ini juga mengulas peran diaspora NTT dalam pembangunan daerah. Pemerintah membuka ruang kolaborasi melalui jejaring, investasi sosial, hingga transfer pengetahuan dari warga NTT di berbagai daerah dan luar negeri.
“Inklusivitas berarti merangkul mereka yang jauh agar tetap ingin pulang dan berkontribusi,” kata Melki.
Melki mengakui masih terdapat berbagai keterbatasan dalam pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu, buku “Asa dan Rasa” tidak hanya memuat capaian, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas tantangan yang dihadapi.
“Inklusivitas bukan tujuan yang selesai dalam satu tahun, melainkan proses yang harus terus dirawat,” ujarnya.
Ia berharap buku ini dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus penguat komitmen bersama dalam membangun NTT yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.
Melki menegaskan, seluruh capaian yang diraih bukan hasil kerja individu, tetapi kolaborasi bersama DPRD, pemerintah kabupaten/kota, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat.
“Pembangunan adalah kerja kolektif yang membutuhkan kebersamaan dan kesinambungan,” katanya.
Melki menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan satu tahun kepemimpinan tersebut.
Ia berharap, semangat dalam buku “Asa dan Rasa” dapat menggerakkan masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan visi NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.***

