Melki-Johni Beberkan Hasil Kerja 1 Tahun Memimpin NTT

KUPANG, HN – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma memaparkan capaian satu tahun pemerintahan sebagai bentuk refleksi, evaluasi, pertanggungjawaban kepada masyarakat.

Melki menyebut, tahun pertama difokuskan sebagai tahun fondasi, yakni menata sistem, memperbaiki tata kelola, dan memperkuat arah pembangunan agar kebijakan selanjutnya lebih presisi menyentuh desa, keluarga, dan kantong kemiskinan.

“Kami memaknai satu tahun kepemimpinan ini sebagai momen evaluasi yang jujur dan terbuka, bukan sekadar peringatan administratif, tetapi bentuk pertanggungjawaban atas arah kebijakan yang telah dijalankan,” ujar Melki, Jumat 20 Februari 2026.

NTT saat ini, kata dia, dihuni sekitar 5,7 juta jiwa yang menaruh harapan besar pada pemerintah, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan peningkatan kesejahteraan.

Secara makro, kinerja ekonomi NTT menunjukkan tren positif. Laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2025 mencapai 5,14 persen, meningkat dibandingkan tahun 2024.

Pemerintah Provinsi NTT menetapkan tiga prioritas utama untuk menjaga momentum tersebut, yakni menjaga stabilitas ekonomi daerah, memperkuat pelayanan dasar masyarakat, dan menggerakkan ekonomi lokal berbasis potensi daerah

BACA JUGA:  KPAD Ungkap Fenomena Suami Antar Istri Layani Pelanggan di Kota Kupang

Pertumbuhan ini didorong oleh penguatan sektor UMKM, optimalisasi belanja produk lokal, serta implementasi program One Village One Product (OVOP) yang bertujuan meningkatkan nilai tambah produk desa.

Sebanyak 44 produk unggulan desa dan 190 UMKM telah masuk dalam pembinaan OVOP, dengan dukungan pelatihan, pembiayaan, serta akses pasar.

Persentase penduduk miskin di NTT pada September 2025 tercatat sebesar 17,50 persen atau sekitar 1.031.690 orang. Angka ini turun 1,52 persen poin dibandingkan September 2024 yang mencapai 19,02 persen.

Penurunan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penguatan bantuan sosial, stabilitas harga pangan, peningkatan aktivitas ekonomi desa, dan perbaikan harga komoditas

Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa tantangan masih besar karena lebih dari satu juta warga masih hidup dalam keterbatasan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi harus berujung pada berkurangnya kemiskinan dan peningkatan martabat masyarakat,” jelasnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka pada November 2025 tercatat sebesar 3,10 persen, menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Inflasi juga terkendali di angka 2,40 persen, sehingga daya beli masyarakat relatif stabil.

BACA JUGA:  Bank NTT Buka 1400 Rekening untuk Peserta BPJS Naker di Kota Kupang

Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT meningkat menjadi 69,89, yang mencerminkan perbaikan dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat.

Dalam sektor kesehatan, prevalensi stunting berdasarkan data e-PPGBM tercatat sebesar 20,2 persen atau sekitar 65.336 balita.

Meski secara persentase mengalami penurunan, jumlah absolut balita stunting masih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) juga menunjukkan prevalensi stunting di NTT masih berada pada angka 37 persen.

Melki menyebut penanganan stunting menjadi prioritas melalui intervensi lintas sektor, termasuk penguatan gizi, kesehatan ibu dan anak, serta peningkatan konsumsi protein.

Sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi lokal, pemerintah juga membentuk NTT Mart di 22 kabupaten/kota sebagai simpul distribusi produk daerah.

Program ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasok produk lokal, memberikan kepastian pasar bagi UMKM, dan meningkatkan nilai tambah produk daerah.

Selain itu, pemerintah juga meluncurkan Gerakan Beli NTT untuk mendorong ASN dan masyarakat mengutamakan produk lokal.

Selain itu menghadirkan Dapur Flobamorata sebagai pusat inovasi pengolahan pangan lokal agar produk NTT memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.

BACA JUGA:  Tiga Tarian Daerah Disiapkan Sambut Delegasi KTT ASEAN di Labuan Bajo

Sektor pertanian menunjukkan peningkatan produktivitas. Produktivitas padi meningkat dari 4,19 ton per hektar pada 2024 menjadi 4,56 ton per hektar pada 2025.

Program optimalisasi lahan, peningkatan peran penyuluh, serta penguatan pasar tani menjadi faktor utama peningkatan ini.

Sektor peternakan juga mencatat pertumbuhan signifikan. Populasi sapi meningkat menjadi 622.276 ekor pada 2025, sementara populasi kuda dan kerbau juga mengalami peningkatan.

Untuk mewujudkan visi “NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan”, pemerintah menetapkan tujuh pilar pembangunan, yaitu pilar ekonomi berkelanjutan, pilar kesehatan, pilar pendidikan, pilar pemberdayaan komunitas, pilar pemerataan infrastruktur, pilar reformasi birokrasi dan HAM, serta, pilar kolaborasi.

“Tujuh pilar ini menjadi kerangka utama pembangunan yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ungkap Melki Laka Lena.

Melki menegaskan, capaian satu tahun ini bukan tujuan akhir, melainkan fondasi untuk pembangunan jangka panjang.

Fokus ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat, terutama petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM.

“Setiap pertambahan usia kepemimpinan harus diikuti dengan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara nyata,” pungkasnya.***

error: Content is protected !!