KUPANG, HN – Sebanyak 45.000 petani di Nusa Tenggara Timur akan mendapat dukungan penguatan ketahanan iklim melalui proyek pendanaan Green Climate Fund (GCF) yang dirancang untuk dilaksanakan selama enam tahun ke depan di 12 kabupaten.
Proyek GCF akan dilaksanakan melalui kerja sama antara Pemerintah Provinsi NTT, National Designated Authority (NDA) Kementerian Keuangan, dan United Nations Development Programme (UNDP).
NDA yang diwakili Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu adalah otoritas nasional yang ditunjuk untuk mengelola hubungan dan sinkronisasi proyek GCF dengan kebijakan pembangunan dan adaptasi perubahan iklim nasional.
Pendanaan hibah dari GCF akan dilaksanakan UNDP di 12 kabupaten di NTT, yakni, Alor, Flores Timur, Lembata, Sikka, Ende, Manggarai Barat, Kupang, TTS, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.
Perwakilan UNDP Indonesia, Siprianus Bate Soro mengatakan,
proyek ini merupakan hibah dari GCF untuk memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim melalui pengembangan aneka komoditas strategis.
“Proyek ini akan memperkuat kebijakan di sektor pertanian, dan menyasar langsung sekitar 45.000 rumah tangga petani dengan masa pelaksanaan selama 6 tahun,” ujar Siprianus, Kamis 10 Juli 2025.
Programme Research Manager, Budi Gunawan memaparkan proposal pendanaan GCF “Membangun Ketahanan Iklim bagi Petani Kecil di NTT.
Dia menyebut ada 12 kabupaten yang mendapat manfaat dari program GCF diantaranya, Alor (padi, kopi arabika dan robusta, serta kelapa).
Flores Timur (padi, kopi arabika & robusta, kelapa, kakao), Lembata (padi dan kelapa), Sikka (padi, kelapa, jambu mete, kakao), Ende (kopi robusta, kelapa, jambu mete).
Manggarai Barat (kopi robusta), Kupang (padi), TTS (padi), Sumba Barat (jagung), Sumba Barat Daya (jagung, kelapa, jambu mete), Sumba Tengah (jagung, jambu mete) dan Sumba Timur (jagung, kelapa, jambu mete).
Terlaksananya proyek ini diharapkan mampu membangun lingkungan yang mendukung serta kerangka kelembagaan untuk pengelolaan pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim dalam jangka panjang.
Meningkatnya ketahanan iklim pada mata pencaharian petani kecil melalui perluasan skala dan penerapan praktik budidaya tanaman pangan yang inovatif dan tahan terhadap perubahan iklim.
Serta meningkatnya akses petani terhadap keuangan dan pasar untuk mendukung produksi pertanian yang tahan iklim dan berkelanjutan (Climate-Resilient Agriculture/CRA).
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan akan mempercepat proyek itu sebagai tindak lanjut teknis agar proyek ini bisa segera dieksekusi.
“Pasca pertemuan ini, kita butuh langkah-langkah teknis yang mendukung agar program ini cepat terealisasi. Kita pastikan agar program ini segera diputuskan dan dilaksanakan,” jelasnya.
Wagub NTT, Johni Asadoma berharap seluruh pendanaan proyek ini berasal dari UNDP dan Kementerian Keuangan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.***

