Oleh: Romana Lodin, Mahasiswi Fakultas Hukum, Unifersitas Flores, Ende.
ENDE, HN – Jejak toleransi antarumat beragama bisa dilihat sepanjang acara pemakaman Yang Mulia Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Kamis 23 November 2023.
Acara ini dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah se-Keuskupan Ende, mulai dari acara pelepasan di Katedral Ende sampai pada acara pemakaman di Ndona.
Acara pelepasan dimulai pukul 09.00 WITA dan dilanjutkan perarakan sepanjang perjalanan dari Katedral Ende menuju Pekuburan Para Uskup di Ndona.
Misa pelepasan gembala umat tersebut dipimpin oleh ketua Presidium Konferensi Wali Gereja ( KWI ),Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., yang sekaligus menjabat sebagai Uskup Agung Bandung.
Umat beragama Muslim berbaur diantara lautan manusia umat gereja sepanjang acara itu berlangsung. Mereka berkabung bersama umat gereja dan turut mendoakan kepergian Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota.
Hal ini menunjukkan toleransi umat beragama masih terawat, sebagai bentuk perilaku saling menghargai untuk menjaga kerukunan dan perdamaian.
Umat Muslim yang tidak ambil bagian dalam acara pemakaman berdiri di seputaran jalan, pendopo rumah dan toko, juga memenuhi hampir setiap lorong jalan disepanjang jalan dari katedral menuju Ndona.
Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kata-kata dan teriakan perdamaian semata, tetapi perlu dipraktekkan.
Hal ini akan meminimalisir terjadinya konflik antarumat beragama. Tidak sedikit dari mereka yang ikut berkabung di acara pemakaman itu menerapkan sikap toleransi itu sendiri tanpa mengenal batas waktu, tempat dan suasana.
Duka yang dialami umat Kristiani atas kehilangan Uskup Mgr.Vincentius Sensi Potokota adalah duka mereka juga, sebagaimana mereka mewujudkan itu dengan menghadiri acara tersebut sampai penutup.
Yang paling menarik adalah sikap toleransi itu justru tampak jelas ditemukan di pintu gerbang pekuburan, dan mereka lebih terkesan sebagai tuan rumah di acara pemakaman itu.
Keterlibatan mereka menunjukkan bagaimana setiap orang dituntut untuk menerima satu sama lain sebagai saudara, tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan, dan sekaligus mengakui serta menghormati perbedaan itu sendiri.
Acara ini adalah moment bermakna, dimana umat beragama Muslim dalam realita menunjukkan sikap toleransi, kerukunan, moderasi beragama, dan turut merasa kehilangan atas kepergian Bapak Uskup.
“Agama bukanlah alat pemecah belah, tetapi bagaimana kita dituntut untuk berdiri dengan asumsi yang sama bahwa segala bentuk toleransi adalah cara untuk melengkapi sekaligus menyatukan perbedaan antara satu sama lain”, ujar Nanda,seorang mahasiswi Muslim di Universitas Flores yang turut ambil bagian sepanjang acara itu.
Dia mengungkapkan bahwa Tuhan itu hanya satu,terlepas dari bagaimana setiap orang yang dengan cara berbeda menyampaikan ekspresi jiwanya tentang Tuhan.
Ini menjadi sesuatu yang patut dipertahankan, sebagaimana umat beragama bisa hidup bersama-sama sebagai saudara dan hidup dalam lingkup toleransi.
“Jatinya keberagaman antarumat beragama bukanlah semata-mata hanya simbol atau ucapan belaka, tetapi bagaimana kita mengekspresikan itu dalam tindakan nyata,” lanjut Nanda.
“Kita sama-sama ditakdirkan sebagai manusia yang punya perasaan kasihan, yang sama-sama mengerti tentang kehilangan. Dan kehadiran kami di sini bukan untuk menghibur, tetapi duka yang dirasakan umat Kristiani atas kepergian Bapak Uskup adalah duka kami juga,” tambah Nanda.
Kehadiran umat beragama Muslim dalam acara pemakaman ini menggambarkan bahwa keberagaman itu bukan menjadi penghalang atau jurang pemisa, melainkan bagaimana umat Muslim dan Kristiani bisa saling merangkul dan berpelukan.***

